Monday, 23 March 2015

Larutan Elektrolit dan Non-elektrolit

Larutan didefinisikan sebagai
·         campuran dua atau lebih zat yang membentuk satu macam fasa (homogen) dan sifat kimia setiap zat yang membentuk larutan tidak berubah.
·     homogen menunjukkan tidak ada kecenderungan zat-zat dalam larutan terkonsentrasi pada bagian-bagian tertentu, melainkan menyebar secara merata di seluruh campuran.· Sifat-sifat fisika zat yang dicampurkan dapat berubah atau tidak, tetapi sifat-sifat kimianya tidak berubah.
Contoh:
  •  Larutan dari campuran alkohol dan air. Sifat fisika dan kimia setiap zat tidak berubah. 
  •  Larutan dari campuran gula pasir dan air. Sifat fisika gula berubah dari kristalin menjadi      molekuler, tetapi sifat-sifat kimianya tidak berubah. 
  • Larutan dari campuran NaCl dan air. Sifat-sifat fisika NaCl berubah dari kristalin menjadi ion-ionnya, tetapi sifat kimia NaCl tidak berubah.
Berdasarkan daya hantar listrik larutan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1.    Larutan Elektrolit yaitu Larutan yang dapat menghantarkan arus listrik,  Contoh: larutan asam sulfat, natrium hidroksida, garam dapur, asam cuka, dan amonium hidroksida.
2.  Larutan non elektrolit yang tidak dapat menghantarkan arus listrik, Contoh: larutan gula dan larutan urea.
A.  Teori Ion Svante August Arrhenius
Menurut Arrhenius, menyimpulkan
  • Larutan elektrolit dapat menghantarkan arus listrik karena zat elektrolit dalam larutannya terurai menjadi ion-ion bermuatan listrik dan ion-ion tersebut selalu bergerak bebas. ion-ion inilah yang sebenarnya menghantarkan arus listrik melalui larutannya. 
  • Larutan non-elektrolit tidak dapat menghantarkan arus listrik karena zat non-elektrolit dalam larutannya tidak terurai menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul yang tidak bermuatan listrik.
Zat elektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya dapat menghantarkan arus listrik karena telah terionisasi menjadi ion-ion bermuatan listrik. Zat nonelektrolit adalah zat yang dalam bentuk larutannya tidak dapat menghantarkan arus listrik karena tidak terionisasi menjadi ion-ion, tetapi tetap dalam bentuk molekul. Peristiwa terurainya suatu elektrolit menjadi ion-ionnya disebut proses ionisasi.
B.   Senyawa ion dan Senyawa kovalen polar
1.       Senyawa Ion
Senyawa ion adalah senyawa yang terbentuk dari ikatan ion (serah terima elektron), misalnya NaCl terdiri atas ion Na+ dan ion Cl-. Dalam wujud kristal (Padatan)  ion-ion tidak dapat bergerak bebas (diam pada tempatnya) sehingga dalam wujud padatan senyawa ionik tidak menghantarkan listrik,   Tetapi jika dilelehkan atau dilarutkan, maka ion-ionnya dapat bergerak bebas, sehingga lelehan dan larutan senyawa ion dapat menghantarkan listrik
2.       Senyawa kovalen Polar
Senyawa kovalen terdiri dari molekul-molekul yang bersifat netral, dan tidak dapat menghantarkan listrik. Namun pada senyawa kovalen polar seperti H2O, HCl, dan CH3COOH dapat menghantarkan listrik, karena pada senyawa kovalen polar jika dilarutkan dalan air dapat mengalami ionisasi, yang disebabkan antara molekul polar terdapat gaya tarik menarik yang dapat memutuskan ikatan tertentu dalam molekul.
Kesimpulan
  • Bahwa senyawa ion dalam wujud padatan bersifat non –konduktor, dan dalam wujud lelehan serta larutann bersifat konduktor. 
  • Sedangkan Senyawa kovalen polar dalam wujud padatan maupun lelehan bersifat non-konduktor, pada larutan sebagai konduktor
C.  Elektrolit Kuat dan Elektrolit Lemah
Berdasarkan kuat-lemahnya daya hantar listrik, larutan elektrolit dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
  1. Larutan elektrolit kuat, yaitu larutan elektrolit yang mengalami ionisasi sempurna. Indikator pengamatan: lampu menyala terang dan timbul gelembung gas pada elektrode. Contoh: larutan H2SO4, larutan NaOH, dan larutan NaCl. 
  2. Larutan elektrolit lemah, yaitu larutan elektrolit yang mengalami sedikit ionisasi (terion tidak sempurna). Indikator pengamatan: lampu tidak menyala atau menyala redup dan timbul gelembung gas pada elektrode. Contoh: larutan CH3COOH dan larutan NH4OH.
Derajat Ionisasi
Banyak sedikitnya zat elektrolit yang meng-ion, dapat dinyatakan dalam derajat ionisasi yaitu perbandingan antara jumlah zat yang mengion dengan jumlah zat yang dilarutkan.
            Jumlah zat yang meng ion
ɑ          = -------------------------------------------
                        jumlah zat mula-mula
Contoh soal :
Sebanyak 0,1 mol asam asetat dilarutkan dalam 1 liter air, Jika 0,001 mol asam itu meng ion, maka derajat ionisasi (ɑ) nya adalah
            Jumlah zat yang meng ion                                              0,001
ɑ          = -------------------------------------------      =  ---------------------   =     0,01
                        jumlah zat mula-mula                                                        0,1
Jika semua zat meng-ion, maka derajat ionisasinya = 1 , sedangkan jika tidak ada yang mengion derajat ionisasinya = 0, sehingga batas derajat ionisasinya adalah 1 > ɑ > 0
Perbedaan antara larutan elektrolit kuat dan elektrolit lemah dan Non-elektrolit
No
Larutan Elektrolit Kuat
Larutan Elektrolit Lemah
Non-elektrolit
1
Dalam larutan terionisasi sempurna
Dalam larutan terionisasi sebagian
Tidak terionisasi
2
Jumlah ion dalam larutan sangat banyak
Jumlah ion dalam larutan sedikit
berbentuk molekul
3
Menunjukkan daya hantar listrik kuat
Menunjukkan daya hantar listrik lemah
Tidak menghantarkan listrik
4
Derajat ionisasi mendekati 1
Derajat ionisasi  < 1
0
5
Pada Uju elektrolit Nyala lampu terang dan banyak timbul gelembung
Pada Uju elektrolit Nyala lampu redup dan sedikit gelembung
Pada Uju elektrolit lampu tidak menyala tidak ada gelembung
D.  Reaksi ionisasi larutan elektrolit
Pedoman penulisan reaksi ionisasi sebagai berikut.
1.      Elektrolit Kuat
a.       Asam kuat
HxZ(aq)         `                    x H+(aq)             +          Zx(aq)
Contoh:
                     HCl(aq)                            H+(aq)         +          Cl(aq)
                     H2SO4(aq)                            2H+(aq)       +            SO42-(aq)
                     HNO3(aq)                             H+(aq)         +          NO3-(aq)
b.       Basa kuat
M(OH)x(aq)                             Mx+(aq)              +          x(OH)-(aq)
Misalnya
                                    NaOH(aq)                             Na+(aq)               +          OH(aq)
Ba(OH)2(aq)                         Ba2+(aq)              +          2 OH(aq)
Ca(OH)2(aq)                         Ca2+(aq)             +          2 OH(aq)          
c.       Garam
MxZy(aq)                                 x My+(aq)           +          y Zx(aq)
Misalnya
NaCl(aq)                                  Na+(aq)               +          Cl(aq)
Na2SO4(aq)                              2Na+(aq)             +          SO42–(aq)
Al2(SO4)3(aq)                          2 Al3+(aq)           +          3SO42–(aq)
2.      Elektrolit lemah
a.     Asam lemah
HxZ(aq)               ®        x H+(aq)             +          Zx(aq)
Contoh:
CH3COOH(aq)    ®        H+(aq)                 +          CH3COO(aq)
b.    Basa lemah
M(OH)x(aq)        ®        Mx+(aq)               +          x OH(aq)
Contoh:
NH4OH(aq)        ®        NH4+(aq)            +         OH(aq)
Al(OH)3(aq)        ®        Al3+(aq)              +          3 OH(aq)
Fe(OH)2(aq)        ®        Fe2+(aq)               + 2 OH(aq)

0 komentar:

Post a Comment

bagus sangat membatu bagi kami
sering-seringlah enteri file yang baru
kami merasa senang dan bangga atas kebedradaan blog ini