Sunday, 4 January 2015

PENGADMINISTRASIAN FASILITAS PENUNJANG LABORATORIUM PEMBELAJARAN KIMIA


PENGADMINISTRASIAN FASILITAS PENUNJANG LABORATORIUM PEMBELAJARAN KIMIA
( Laporan Praktikum Pengelolaan Laboratorium Kimia)


Oleh
Siska Ayu Agustin
1213022071

                                                                                               



LABORATORIUM PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013










BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
         Pengelolaan merupakan suatu proses pendayagunaan sumber daya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu sasaran yang diharapkan secara optimal dengan memperhatikan keberlanjutan fungsi sumber daya. Henri fayol (1996: 86) menyatakan bahwa pengelolaan hendaknya dijalankan berkaitan dengan unsur atau fungsi-fungsi manajer, yakni perencanaan, pengorganisasian, pemberian komando, pengkoordinasian, dan pengendalian. Sementara luther m. Gullick (1993:31) menyatakan fungsi-fungsi manajemen yang penting adalah perencanaan, pengorganisasian, pengadaan tenaga kerja, pemberian bimbingan, pengkoordinasian, pelaporan, dan penganggaran. Dalam pengelolaan laboratorium meliputi beberapa aspek yaitu sebagai berikut.
1. Perencanaan
2. Penataan
3. Pengadministrasian
4. Pengamanan, perawatan, dan pengawasan
         Pengelolaan laboratorium berkaitan dengan pengelola dan pengguna, fasilitas laboratorium (bangunan, peralatan laboratorium, spesimen kimia, Bahan kimia), dan aktivitas yang dilaksanakan di laboratorium yang menjaga keberlanjutan fungsinya. Pada dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggung jawab bersama baik pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus memiliki kesadaran dan merasa terpanggil untuk mengatur, memelihara, dan mengusahakan keselamatan kerja. Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium  selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan upaya menjaga keselamatan kerja mencakup usaha untuk selalu mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan sewaktu bekerja di laboratorium dan penangannya bila terjadi kecelakaan.
         Administrasi laboratorium adalah suatu bagian yang tak dapat dipisahkan dari kegiatan laboratorium sehari-hari. Di dalam administrasi tersebut pengadnmnistrasian barang-barang laboratorium sanngatlah penting guna menjaga ke bugaran dari alat-alat dan bahan-bahan yang akan di gunakan. Juga mengetahui alat dan bahan mana sata yang rusak danharus di ganti dengan yang baru seandainya tidak dapat di perbaiki lagi. Pencatatan harus sesuai dengan fakta yang ada sehingga tidak terjadi kekeliruan. Untuk itu di lakukan percobaan tentang pengadministrasian fasilitas penunjang laboratorium.

B.     Tujuan
Adapun tujuan di adakan percobaan ini agar mahasiswa dapat
1.      Mengetahui cara pengadministrasian barang dalam laboratorium.
2.      Mengetahui barang-barang yang masih layak pakai dengan barang yang perlu di ganti atau di perbaiki.

 
 
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Manajemen/Pengelolaan Laboratorium
Untuk mengelola laboratorium dengan baik kita harus mengenal perangkat-perangkat manajemen apa yang harus dikelola. Perangkat-perangkat  laboratorium yang dimaksud tersebut antara lain adalah :
1.      Tata ruang
2.      Alat yang baik dan terkalibrasi
3.      Infrastruktur
4.      Administrasi laboratorium
5.      Organisasi laboratorium
6.      Fasilitas pendanaan
7.      Inventarisasi dan keamanan
8.      Pengamanan laboratorium
9.      Disiplin yang tinggi
10.  Ketrampilan SDM
11.  Peraturan Dasar
12.  Penanganan masalah umum
13.  Jenis-jenis pekerjaan
Semua perangkat-perangkat ini jika dikelola secara optimal, akan mendukung terwujudnya penerapan manajemen laboratorium yang baik. Dengan demikian manajemen laboratorium dapat dipahami sebagai suatu tindakan pengelolaan yang kompleks dan terarah, sejak dari perencanaan tata ruang sampai dengan perencanaan semua perangkat penunjang lainnya,  dengan  sebagai pusat aktivitas adalah tata ruang.

Rincian Kegiatan Masing-Masing Perangkat
1.      Tata Ruang ( Lab lay out )
Untuk tata ruang, sebaiknya ditata sedemikian rupa sehingga laboratorium dapat berfungsi dengan baik. Tata ruang yang sempurna, sejak dimulai perencanaan gedung pada waktu dibangun. Tata ruang yang baik (kondisi ideal) sebuah laboratorium harus mempunyai :
a.       Pintu masuk (in)
b.       Pintu keluar (out)
c.       Pintu darurat (emergency-exit)
d.      Ruang persiapan (preparation room)
e.       Ruang peralatan (equipment-room)
f.       Ruang penangas (fume-hood)
g.      Ruang penyimpanan / gudang (storage-room)
h.      Ruang staf (Staff-room)
i.        Ruang teknisi/laboran
j.        Ruang bekerja (activity-room)
k.      Ruang istirahat / ibadah
l.        Ruang prasarana kebersihan
m.    Ruang peralatan keselamatan kerja
n.      Lemari praktikan (locker)
o.      Lemari gelas (glass-room)
p.      Lemari alat-alat optik (opticals-room)
q.      Pintu jendela berkassa, agar serangga dan burung tidak dapat masuk
r.        Fan / kipas angin
s.       Ruang AC untuk alat-alat tertentu yang memerlukan persyaratan tertentu.

2.       Alat yang baik dan terkalibras
Pengenalan terhadap peralatan laboratorium merupakan kewajiban bagi setiap petugas laboratorium untuk mengetahuinya, terutama mereka yang akan mengoperasikan peralatan tersebut. Setiap alat yang akan dioperasikan itu harus benar-benar dalam kondisi :
a.       Siap pakai (ready for use)
b.      Bersih
c.       Terkalibrasi
d.      Tidak rusak
e.       Beroperasi dengan baik
Peralatan yang ada juga harus disertai dengan buku petunjuk pengoperasian (manual-operation). Hal ini untuk mengantisipasi bila terjadi kerusakan, buku manual tersebut dapat dimanfaatkan oleh teknisi/laboran  untuk seperlunya. Teknisi laboratorium yang ada harus senantiasa berada di tempat, karena setiap kali peralatan dioperasikan kemungkinan alat tidak dapat beroperasi dengan baik dapat saja terjadi.
Beberapa peralatan laboratorium yang dimiliki kiranya dapat disusun secara teratur pada suatu tempat tertentu, berupa rak atau pada meja yang disediakan. Peralatan berfungsi untuk melakukan suatu kegiatan pekerjaan, percobaan atau demonstrasi tertentu yang menghendaki adanya bantuan peralatan. Untuk itu peralatan laboratorium harus berada dalam kondisi yang baik. Alat-alat ini disusun secara teratur, sesuai dengan fungsinya masing-masing.
Peralatan laboratorium sebaiknya dikelompokkan berdasarkan penggunaannya. Setelah selesai digunakan harus segera dibersihkan kembali dan disusun seperti semula. Semua alat-alat ini sebaiknya diberi penutup (cover), misal plastik transparan, terutama terutama alat-alat yang memang memerlukannya. Alat-alat yang tidak berpenutup akan cepat berdebu, kotor dan akhirnya dapat merusak alat yang bersangkutan.
a.       Untuk alat-alat gelas (Glassware)
Alat-alat gelas harus dalam keadaan bersih, apalagi peralatan gelas yang sering dipakai. Untuk alat-alat gelas yang memerlukan sterilisasi, sebaiknya disterilisasi sebelum dipakai. Semua alat-alat gelas ini seharusnya ditempatkan pada lemari khusus.
b.      Untuk bahan-bahan kimia
Untuk bahan-bahan kimia yang bersifat asam dan alkalis, sebaiknya ditempatkan pada kamar/ruang fume (untuk mengeluarkan gas-gas yang mungkin timbul). Demikian  juga untuk bahan-bahan yang mudah menguap. Ruangan fume perlu dilengkapi fan, agar udara/uap yang ada dapat terpompa keluar. Bahan kimia yang ditempatkan dalam botol berwarna coklat atau gelap tidak boleh langsung terkena sinar matahari, sebaiknya ditempatkan pada lemari khusus.
c.       Alat-alat mikroskop
Alat-alat mikroskop dan alat-alat optik lainnya seharusnya disimpan pada tempat yang kering dan tidak lembab. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan lensa-lensa berjamur, jika jamur ini banyak, maka mikroskop akan rusak dan tidak dapat dipakai sama sekali. Sebagai tindakan pencegahan, mikroskop selalu ditempatkan dalam kotaknya, yang biasanya dilengkapi dengan silica-gel dan sebelum disimpan dicek kembali kebersihannya. Mikroskop ini seharusnya ditempatkan di dalam lemari-lemari khusus yang dikendalikan kelembabannya. Untuk lemari biasanya diberi lampu pijar 10-15 watt, agar ruang ini tetap selalu panas / kering dan akan mengurangi kelembaban udara (dehumidifier-air). Alat optik lainnya seperti lensa pembesar (loupe), alat kamera optik, kamera digital, microphoto-camera, juga ditempatkan pada lemari khusus yang tidak lembab .

3.      Infrastruktur Laboratorium
Infrastruktur ini meliputi :
a.       Laboratory assessment
Mencakup tentang lokasi laboratorium, konstruksi laboratorium dan fasilitas lain, termasuk pintu utama, pintu emergency, jenis meja/pelataran, jenis atap, jenis dinding, jenis lantai, jenis pintu, jenis lampu yang dipakai, kamar penangas, jenis pembuangan limbah, jenis ventilasi, jenis AC, jenis tempat penyimpanan, jenis-jenis lemari bahan kimia, alat optik, timbangan, instrumen yang lain, kondisi laboratorium, dan sebagainya.
b.      Fasilitas Umum (General services)
Mencakup tentang kebutuhan listrik, stabilitas tegangan, sumber listrik, distribusi arus, jenis panel listrik, jenis sokets, sumber air dan pendistribusiannya cukup atau tidak, jenis kran, jenis bak pembuangan air, apakah tekanan air cukup atau tidak, instalasi air, instalasi listrik, keadaan toilet/kamar kecil, jenis kamar/ruang persiapan dan kamar khusus lainnya misal perbaikan/bengkel, penyediaan tenaga teknisi, penyediaan dana, dan sebagainya.

4.      Administrasi Laboratorium
Administrasi laboratorium meliputi segala kegiatan administrasi yang ada di laboratorium, yang antara lain terdiri atas :
a.       Inventarisasi peralatan laboratorium yang ada.
b.      Daftar kebutuhan alat baru, atau alat tambahan, alat-alat yang rusak, dan atau alat-alat yang dipinjam/dikembalikan.
c.       Keluar masuk surat menyurat.
d.      Daftar pemakaian laboratorium, sesuai dengan jadwal kegiatan praktikum / percobaan yang ada.
e.       Daftar inventarisasi bahan-bahan kimia (chemikalia) dan non kimia (non chemikalia), bahan-bahan gelas dan sebagainya.
f.       Daftar penerimaan barang serta  daftar pembelian barang.
g.      Daftar inventaris alat –alat mebelair (kursi, meja, bangku, lemari, dsb).
h.      Sistem evaluasi dan pelaporan.
Kegiatan administrasi adalah merupakan kegiatan rutin yang berkesinambungan, karenanya perlu dipersiapkan dan dilaksanakan dengan baik dan teratur.

5.      Inventarisasi dan Keamanan Laboratorium
Kegiatan inventarisasi dan keamanan laboratorium meliputi :
a.       semua kegiatan inventarisasi (Inventory=Inventarisasi), seperti yang telah disebutkan di atas pada semua peralatan, bahan dan barang-barang yang ada di laboratorium, secara detail. Inventarisasi ini juga harus memuat sumbernya (dari mana asal barang tersebut). Misalnya : hibah, droping dari proyek, dari dana masyarakat lewat komite sekolah, dll.
b.      Keamanan yang dimaksud di sini adalah apakah peralatan tersebut tetap ada di laboratorium, atau ada yang meminjamnya.  Apakah ada yang hilang, dicuri, pindah tempat atau rusak / sedang diperbaiki tetapi tidak dilaporkan keadaan sebenarnya. Perlu diingat bahwa barang-barang dan semua peralatan laboratorium yang ada adalah milik negara, jadi tidak boleh ada yang hilang.
c.       Tujuan yang akan dicapai dari inventarisasi dan keamanan ini adalah :
·         mencegah kehilangan dan penyalahgunaan
·         mengurangi biaya-biaya operasional
·         meningkatkan proses pekerjaan dan hasilnya
·          meningkatkan kualitas kerja
·          mengurangi resiko kehilangan
·         mencegah pemakaian berlebihan
·         meningkatkan kerjasama

6.      Penggunaan Laboratorium
Prinsip Umum:
a.       Tanggung jawab
Pimpinan pengelola laboratorium, anggota laboratorium (guru-guru pengguna lab), teknisi dan laboran bertanggung jawab penuh terhadap segala kecelakaan yang mungkin timbul. Karenanya pimpinan pengelola laboratorium di Sekolah Menengah dipegang oleh guru yang berpengalaman dan memiliki keahlian yang sesuai. Demikian juga dengan teknisi dan laboran.
b.      Kerapian
Semua koridor, jalan keluar dan alat pemadam api harus bebas dari hambatan seperti botol-botol dan kotak-kotak. Lantai harus bersih dan bebas minyak, air dan material lain yang mungkin menyebabkan lantai licin. Semua alat-alat dan reagent harus segera dikembalikan ke tempat semula setelah digunakan.
c.       Kebersihan masing-masing pekerja di laboratorium.
d.      Perhatian terhadap tugas masing-masing harus berada pada pekerjaan mereka masing-masing, jangan mengganggu pekerjaan orang lain. Percobaan yang memerlukan perhatian penuh tidak boleh ditinggalkan.
e.       Pertolongan pertama ( First-Aid)
Semua kecelakaan bagaimanapun ringannya harus segera ditangani ditempat pertolongan pertama. Bila mata terpercik, harus segera digenangi air dalam jumlah banyak. Jika tidak bisa segera dibawa ke dokter. Jadi setiap labotratorium harus memiliki kotak PPPK, dan harus selalu dikontrol isinya.
f.       Pakaian
Saat bekerja di laboratorium dilarang memakai baju longgar, kancing terbuka, berlengan panjang, kalung teruntai, anting besar, dan lain-lain yang mungkin dapat ditangkap oleh mesin, ketika sedang bekerja dengan mesin-mesin  yang bergerak/berputar. Yang paling penting rambut harus dilindung dari mesin-mesin yang bergerak.
g.      Berlari di laboratorium
Tidak dibenarkan berlari-lari di laboratorium atau di koridor, berjalanlah di tengah koridor untuk menghindari bertabrakan dengan orang dari pintu yang hendak masuk.
h.      Pintu-pintu
Pintu-pintu harus dilengkapi dengan jendela pengintip untuk mencegah terjadinya kecelakaan (misalnya : kebakaran).
i.        Alat-alat
Alat-alat seharusnya ditempatkan di tengah meja,  agar alat-alat tersebut tidak jatuh ke lantai. Selain itu, peralatan sebaiknya juga ditempatkan dengan sumber listrik, jika memang peralatan tersebut memerlukan listrik untuk sumber energinya. Demikian juga untuk alat-alat yang menggunakan air diletakkan di dekat kran air. Alat-alat yang memerlukan pencahayaan matahari ditempatkan didekat jendela. Alat-alat yang memerlukan kamar gelap diletakkan di kamar gelap, dll.
Penanganan alat-alat
a.       Alat-alat kaca / gelas
Bekerja dengan alat-alat kaca perlu hati-hati sekali. Beakerglass,erlenmeyer, dll sebelum dipanaskan harus benar-benar diteliti apakah gelas tersebut retak , sumbing, dan sebagainya. Bila terdapat gejala itu sebaiknya barang-barang seperti itu tidak dipakai lagi.
b.      Mematahkan pipa kaca/batangan kaca bila hal tersebut hendak dilakukan maka pekerja harus memakai sarung tangan. Bekas patahan pipa kaca dihaluskan lalu diberi pelumas / gemuk, baru kemudian dimasukkan ke sumbat gabus, kaca atau pipet.
c.       Mencabut pipa kaca dari gabus dan sumbat harus dilakukan dengan hati-hati. Bila sukar mencabutnya, potong dan belah gabus itu. Untuk memperlonggar lebih baik menggunakan pelubang gabus yang ukurannya telah cocok, kemudian licinkan dengan meminyakinya dan kemudian putar perlahan-lahan melalui sumbat. Cara ini juga digunakan untuk memasukkan pipa kaca ke sumbat.
d.      Alat-alat kaca yang bergerigi atau sumbing, sebaiknya jangan digunakan. Sebelum dibuang sebaiknya dicuci dulu siapa tahu suatu ketika dapat digunakan untuk keperluan lain atau masih bisa diperbaiki.
e.       Semua bejana seperti botol, flask, test tube dan lain-lain seharusnya diberi label yang jelas. Jika tidak jelas, lakukan pengetesan isi bejana yang belum diketahui secara pasti dengan  hati-hati secara terpisah, kemudian dibuang melalui cara yang sesuai dengan jenis zat kimia tersebut. Biasakanlah menulis tanggal, nama orang yang membuat, konsentrasi, nama dan bahayanya dari zat-zat kimia yang ada di dalam bejana.
f.       Tabung-tabung gas harus ditangani dengan hati-hati walau penuh ataupun tidak penuh. Penyimpanan sebaiknya di tempat sejuk dan hindari tempat yang panas. Kran gas harus selalu tertutup jika tidak dipakai, demikian juga dengan kran pengatur. Alat-alat yang berhubungan dengan tabung gas harus memakai ”safety use” (sejenis alat pengaman jika terjadi tekanan yang kuat). Dewasa ini sudah banyak beredar bergbagai jenis pengaman seperti selang anti bocor dll.
g.      Penggunaan pipet dengan jalan mengisap dengan mulut sebaiknya dihindari. Gunakan pipet yang dilengkapi dengan pompa pengisap (pipet pump).
h.      Di dalam laboratorium harus tersedia alat pemadam kebakaran yang sesuai dengan jenis kebakaran yang mungkin timbul di laboratorium tersebut.
Di bawah ini diberikan bahan-bahan yang dapat menimbulkan kebakaran beserta klasifikasinya.

Kelas kebakaran
(fire class)
Bahan yang mudah terbakar
(Burning material)
Kelas “A”
Kertas, kayu, textil, plastik, bahan-bahan pabrik, atau campuran lainnya.
Kelas “B”
Larutan yang mudah terbakar
Kelas “C”
Gas yang mudah terbakar
Kelas “E”
Alat-alat listrik

Bahan-bahan yang lain, jika terbakar sulit untuk diklasifikasikan , karena berubah dari padat,menjadi cair atau dari cair menjadi gas pada temperatur yang tinggi. Perlu diingat bahwa: Nyawa Anda lebih berharga daripada peralatan/bangunan yang ada”. Oleh karenanya peralatan pemadam kebakaran harus tersedia di laboratorium.
Jenis Alat Pemadam Kebakaran
Type
Kelas Kebakaran
Warna Tabung
Air
A,B,C
Merah
Busa (foam)
A,B
Krem
Tepung (powder)
A,B,C,E
Biru
Halon (Halogen)
A,B,C,E
Hijau
Karbodioksida (CO2)
A,B,C,E
Hitam
Pasir
A,B
-

7. Organisasi Laboratorium
            Organisasi laboratorium meliputi struktur organisasi,  deskripsi pekerjaan, serta susunan personalia yang mengelola laboratorium tersebut. Penanggung jawab tertinggi di laboratorium tersebut adalah Ketua Laboratorium. Ketua Laboratorium bertanggung jawab terhadap semua kegiatan yang dilakukan dan juga bertanggung jawab terhadap seluruh peralatan yang ada. Para anggota laboratorium yang berada di bawah ketua laboratorium juga harus sepenuhnya bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan yang dibebankan padanya. Demikian pula teknisi dsan laboran.
8. Fasilitas Pendanaan
            Ketersediaan dana sangat diperlukan dalam operasional laboratorium. Tanpa adanya dana yang cukup, kegiatan laboratorium akan berjalan tersendat-sendat, bahkan mungkin tidak dapat beroperasi dengan baik. Dana dapat diperoleh dari :
a. Dana dari pemerintah
b. Dana dari masyarakat (lewat Komite Sekolah)
c. Bantuan proyek (droping dari pemerintah)
d. Sumber lain
Jika selama ini misalkan tidak ada dana yang berasal dari pemerintah (untuk sekolah negeri), maka pihak sekolah harus berani mendesak kepada Depdiknas agar disediakan anggaran  misal lewat APBD / APBN untuk keperluan pengembangan laboratorium dan biaya operasional .  Unsur pimpinan sekolah hendaknya sedikit banyak juga mengetahui tentang seluk beluk laboratorium agar dapat mengetahui apakah alat / bahan / barang yang diusulkan oleh pengelola laboratorium untuk diadakan apakah memang benar-benar diperlukan dan nantinya akan dipergunakan atau tidak. Jika alat / bahan / barang yang akan dibeli diadakan lewat proyek, sebaiknya pengelola lab dalam membuat usulan harus tahu persis spesifikasi dan harga barang yang akan dibeli, agar dana yang tersedia dapat digunakan seoptimal mungkin.
9. Disiplin yang tinggi
            Disiplin yang tinggi dari teknisi, laboran dan semua pengelola laboratorium akan mendukung terwujudnya efisensi kerja yang tinggi. Kedisiplinan sangat dipengaruhi oleh pola kebiasaan dan perilaku dari manusianya sendiri. Oleh sebab itu mereka seharusnya dapat menyadari akan tugas, wewenang dan fungsinya.  Sesama laboran, teknisi, dan guru pengelola lab harus ada kerja sama yang baik, sehingga setiap keslitan dapat dipecahkan bersama. Yang juga tidak kalh pentingnya adalah kerjasama pengelola lab dengan unsur pimpinan sekolah yang menangani sarana dan prasarana sekolah.
10. Ketrampilan
            Ketrampilan para tenaga laboran / teknisi harus selalu ditingkatkan kualitasnya. Peningkatan ketrampilan mungkin dapat diperoleh melalui pendidikan tambahan seperti pendidikan ketrampilan khusus, penataran, workshop, magang dll. Peningkatan ini diharapkan dapat meningkatkan peran aktif mereka di laboratorium masing-masing. Peningkatan ketrampilan dapat juga dilakukan melalui bimbingan dari guru pengelola lab yang kompeten.
10. Peraturan Dasar
            Beberapa peraturan dasar untuk menjamin kelancaran jalannya kegiatan di laboratorium antara lain :
a.       Dilarang makan/minum di dalam laboratorium
b.      Dilarang merokok, karena mengandung potensi bahaya seperti :
·         Kontaminasi melalui tangan
·         Ada api/uap/gas yang bocor/mudah terbakar
·         Uap / gas beracun akan tersiap melalui pernafasan
c.       Dilarang meludah, akan menyebabkan terjadinya kontaminasi
d.      Dilarang berlari, terutama bila ada bahaya kebakaran, gempa dan sebagainya. Jadi harus tetap berjalan saja.
e.       Dilarang bermain dengan peralatan laboratorium yang belum diketahui cara penggunaannya. Sebaiknya tanyakan pada orang yang tahu atau pada  teknisi.
f.       Diharuskan selalu menulis label yang lengkap, terutama pada bahan-bahan kimia.
g.      Dilarang mengisap / menyedot dengan mulut segala bentuk pipet. Semua alat harus menggunakan bola karet pengisap (pipet-pump).
h.      Diharuskan memakai baju laboratorium, dan juga sarung tangan terutama saat menuang bahan-bahan kimia yang berbahaya seperti asam sulfat.
i.        Untuk peralatan laboratorium yang spesifik yang sudah ada manual dari pabriknya, dilarang membuat sendiri peraturan penggunaan alat tersebut apalagi bila bertentangan dengan manual yang telah ada.
10.  Penanganan Masalah Umum
a.       Mencampur zat-zat kimia
Jangan mencampur zat kimia tanpa mengetahui sifat reaksinya. Jika belum tahu segera tanyakan pada orang yang mengetahuinya.
b.      Zat-zat baru atau kurang diketahui.
Demi keamanan laboratorium, berkonsultasilah sebelum menggunakan zat-zat kimia baru atau yang kurang diketahui.
c.       Membuang mnaterial berbahaya yang harus diketahui resiko yang mungkin terjadi. Pastikan cara membuangnya tidak menimbulkan bahaya. Demikian juga terhadap air buangan dari laboratorium
d.      Tumpahan
Tumpahan asam segera diencerkan lenih dulu dengan air dan netralkan dengan soda abu atau CaCO3, dan untuk basa dengan air dinetralisir dengan asam encer. Sebelum pengepelan pastikan kain yang digunakan sudah bebas dari asam atau alkali. Tumpahan berupa minyak harus ditaburi pasir, baru disapu dan dibuang ditempat sampah.
11. Jenis Pekerjaan
            Berbagai jenis pekerjaan yang ada di laboratorium harus dibicarakan bersama antara pimpinan laboratorium, anggota  dan teknisi serta laboran. Pemahaman atas jenis pekerjaan di laboratorium bertujuan untuk
a.       Meningkatkan efisiensi penggunaan bahan-bahan kimia, air, listrik, gas dan alat-alat lab.
b.      Meningkatkan efisiensi biaya
c.       Meningkatkan efisiensi tenaga dan waktu
d.      Mempercepat  pelaksanaan pekerjaan
e.       Meningkatkan kualitas guru anggota pengelola lab
f.       Meningkatkan kualitas teknisi dan laboran
g.      Guru, teknisi dan laboran harus bekerja sama dalam satu team work.
Pengatministrasian suatu barang ( alat dan bahan) mencakup kegiatan yang sangat luas, mulai dari perencanaan kebutuhan  pengadaan , penyimpanan termasuk penggudangan , pendistribusian , pemakaian, dan penghapusan. Proses administrasian yang disebutkan diatas saling berkaitan dan berurutan , satu dengan yang lainnya tidak dapat di pishkan. Tetapi dalam kaitannya dengan pengatministrasiaan alat dan bahan praktik IPA di sekolah , pembahasan  pengadministrasian dalam modul ini akan dibatasi hanya pada proses pencatattan alat dan bahan praktik IPA, termasuk masalah-masalah yang berkaitan dengannya. Proses administrasikan yang lain disinggung bila mana perlu.

Tujuan pengadministrasikan alat dan bahan praktik IPA ialah agar dengan mudah dapat diketahui
a.       Jenis alat dan bahan yang ada
b.      Jumat masing-masing alat dan bahan
c.       Jumlah pengurangan dan penambahan
d.      Jumlah yang rusak/pucah , hilang, dan habis

Catatan keempat hal diatas sangat penting bagi keperluan sekolah, baik untuk keperluan pelaksanaan proses belajar – mengajar pendidikan ipa , maupun untuk keperluan pelaksanaan administrasi  sekolah . sebagai contoh : untuk melaksanakan suatu percobaan bagi kegiatan siswa kita perlu tau alat dan bahan apa saja yang ada , berapa jumlah masing-masing alat dan bahan itu , dan berapa yang harus di tambahkan . catatan itu juga sangat penting dalam rangka penyusun perencanaan sekolah pada kegiatan tahun yang akan datang serta sangat diperlukan dalam membuat laporan tahunan sekolah. Leih lanjut, catatan mengenai barang yang rusak/pecah, hilang dan habis dapat dipakai utuk melakukan penelitian mengapa barang itu rusak /pecah atau hilang, dan hasilnya kita gunakan untuk perencanaan pengadanan berikutnya.

Untuk keperluan administrasi ini diperlukan beberapa buku catattan di antaranya ialah::
a.       Buku stok
b.      Kartu barang
c.       Buku pembelian dan penerimaan
d.      Buku peminjaman
e.       Buku harian

abutholhah.files.wordpress.com/.../manajemen-laborat...

Fasilitas laboratorium yang harus dimiliki oleh sekolah menengah atas padamateri pokok listrik dan magnet menurut peraturan pemerintah no. 24 tahun 2007adalah sebagai berikut:Papan Rangkaian Dengan ukuran: 300 X 200 X 21 mm
Terbuat dari bahan: Plastik Dengan plug sheet 5 lubang yang permanen dari bahan tembaga devernikel lubang plug sheet 4 mm digunakan sebagai tempat percobaan rangkaian listrik Penghubung.  Pendek Terbuat dari bahan: Plastik dengan steker kuningan yang divernikel steker 4 mm Dengan ukuran: ± 26 X 7, 5 X 35 mm
Penjepit Plug Terbuat dari bahan: Plastik dari kuningan dengan steker kuningan divernikel (injectio) steker 4 mmDengan ukuran: Panjang 50 mm Lengkap dengan per pegas dari baja divernikel. Steker Pegas Terbuat dari bahan: Baja pegas dari kuningan yang divernikel steker 4 mm. Serbuk Besi Dalam botol plastik, berat 100 gr. Tempat BatereTerbuat dari bahan: Plastik, dengan tancapan 4 mm dan label permanen.. Kabel penghubung MerahaDengan ukuran: Panjang 50 cm, kabel dari untaian kawat halus, dengan tancapan 4 mm. Batang PVC dan Plexiglass Terbuat dari bahan: PVC dan Plexiglass Dengan ukuran: 250 mm X 10 mm (panjang X). Magnet Pemetaan  Dengan ukuran: 15 mm Jarum magnet permanen terpasang dengan baik. Meter Dasar Skala ganda, dengan batasan - 10.0.100 dan -5.0.50 Lebar ± 80 mm. Hambatan sekitar 1000 Ohm dengan pencegah pembebanan lebih.Ketelitian sekitar ± 2, 5 % pada simpangan penuh. Dapat digunakansebagai Ammeter, voltmeter dengan batas ukuran masing-masingmaksimum : 100 uA, 100 mA, 1 A, 5 A, dan 100 mW, 1 V, 10 V, 50 V. Terpasang dalam kotak plastik, berukuran 165 X 115 X 65 mm. Tes Spek: Cek ketelitian, kualitas plug dan soket bagu. Bimetal Terdiri dari: Dudukan 2 buah dari bahan aluminium, dilengkapi mur untuk  pemegang plat Bimetal dan plat tembaga.Ukuran plat bimetal: 125 X 15 X 0, 3 mm. Ukuran plat tembaga: 70 X 15 mm. Magnet Batang (Sepasang) Terbuat dari bahan: Alniko Dengan ukuran: 19 X 70 X 6 mm. Jepit Buaya, sepasang dapat dirangkai dengan kabel penghubung 4 mm. Pemegang Lampu E 10 Terpasang pada kotak plastik dengan tancapan 4 mm, dan label/simbol permanen pada tutup  Lengkap dengan per pegas dari bajadivernikel. Bola Lampu Pijar (6, 2V 0, 3A, E10). Inti Besi Bentuk I Terbuat dari bahan: Plat Baja dan per plat baja Dengan ukuran: 68, 5 X 19 X 19 mm dapat dirangkai dengan inti besi bentuk U dan kumparan. Inti Besi Bentuk U Terbuat dari bahan: Plat Baja dan per plat baja Dengan ukuran: 68, 5 X 19 X 19 mm dapat dirangkai dengan inti besi bentuk I dan kumparan

Dilengkapi: Sekrup pengunci. Kumparan Terbuat dari bahan: Kawat tembaga terpasang pada dudukan plastik dengan steker kuningan divernikel (injection) steker 4 mm label/ simbol permanen pada tutup lengkap dengan per pegas dari baja divernikel Kumparan 250 Lilitan; Kumparan 500 Lilitan; Kumparan 1000lilitan. Model Kompas Terbuat bahan: Plastik jernih, jarum magnet dari magnet steel. Dengan ukuran: 95 mm, panjang jarum 52, 5 mm, tinggi 20 mm Dilengkapi dengan tutup. Pada saat tertutup jarum magnet tidak lepas dari dudukan bila dibalik. Wadah Sel Terbuat dari bahan: Plastik, untuk dudukan Elektroda. Elektroda Dengan ukuran: 76 X 40 X 1 mm1. Tembaga2. Seng3. Baja4. Timbal (ukuran: 76 X 40 X 2 mm). Diode 1 N 4002 Terpasang pada kotak plastik dengan tancapan 4 mm, dengan label/simbol permanen pada tutup Lengkap dengan per pegas dari bajadivernikel. Resistor 1. Resistor 47 Ohm2. Resistor 56 Ohm3. Resistor 100 Ohm Terpasang pada kotak plastik dengan tancapan 4 mm, dengan label/simbol permanen pada tutup Lengkap dengan per pegas dari bajadivernikel. Kawat1. Konstanta2. Besi3. Tembaga Panjang : 24 m Kawat : 0, 35 mm dalam rol plastic. Tempat dan Dudukan Alat. Dudukan alat terbuat dari plastik vacuum kotak alat dari lembaran plastik, dengan 3 bh pengunci dan terdapat 3 sisi, tulisan kit listrik dan magnet disablon permanen pada kotak alat. Buku panduan penggunaan alat dalam bahasa indonesia, dicetak dandijilit rapi serta terdapat beberapa eksperimen percobaan
http://sriagustinatinachan.blogspot.com/2011/10/makalah-desain-dan-fasilitas.html
Inventaris adalah sutu kegiatan dan usaha untuk mnyediakan rekaman tentang keadaan semua fasilitas, barang-barang yang dimiliki sekolah. Bagi SMA yang mempunyai beberapa lab sangat penting untuk mendata fasilitas/menginventaris alat dan bahan lab untuk kegiatan pembelajaran siswa. Dengan kegiatan invetarisasi yang memadai akan dapat diperoleh pedoman untuki mempersiapan anggaran atau memperisapkan kegiatan pada tahun yang akan datang.Misalnya sebagai pedoman untuk dapat mengganti peraltan yang telah rusak, menambah peralatan baru dan sebagainya. Catatan inventaris yang baik akan mempermudah pergantian tanggung jawab dari pengelola yang satu ke yang lainnya.

Inventaris juga akan mempermudah untuk mengetahui dimana suatu peraltan akan ditempatkan. Dengan demikian akan mempermudahkan pengontrolan, seperti terhadap kehilangan yang disebabkan oleh kecerobohan atau kecurian.
Menyelenggarakan inventarisasi terhdap fasilitas dan perlatan yang dimiliki sekolah adalh kewajiban bagi sekolah yang bersangkutan. Sistem dan pelaksanaan inventarisasi harus mengikuti peraturan atau petunjuk yang berlaku.

MACAM DOKUMEN/ALAT INVENTARIS
Daftar alat inventarisasi yang harus digunakan atau diisi :
  1. Buku Induk Barang Inventaris
  2. Buku Catatan Barang Inventaris
  3. Buku Golongan Barang Inventaris
  4. Laporan Triwulan Mutasi barang
  5. Daftar Isian Barang
  6. Daftar Rekapitulasi barang Inventaris

TATA PELAKSANAAN DAN PELAPORAN INVENTARIS
Instruksi Mendikbud No. 4/M/1980 adalah tentang tata pelaksanaan dan pelaporan hasil inventarisasi barang milik/kekayaan negara di lingkungan Depdikbud
PEMBUATAN LAPORAN
JENIS LAPORAN
DISAMPAIAKAN KE
WAKTU PENYAMPAIAN
 Kepala Sekolah
  • Daftar laporan inventaris
  • Daftar rekapitulasi
Kepaka Dinas Pendidikan
 Triwulan/Semester

PEMBERIAN KLASIFIKASI DAN KODE BARANG INVENTARIS
Tujuan dan perberian klasifikasi dan kode barang inventaris adalah untuk memudahkan mengontrol keadaan barang. untuk barang pada umumnya diberi kode dalam bentuk angka numerik yang tersusun menurut pola tertentu.


PENGISIAN DOKUMENT/ALAT INVENTARIS
untuk memberikan informasi tentang barang inventaris yang dicatat selengkap mungkin, berbagai format dokumen/alat inventaris telah dikembangkandan dibakukan untuk digunakan. Ini contoh format yang kami pakai di SMA Negeri 2 Purwokerto.:
No
Nama Barang Inventaris
 Daftar Isian barang Inventaris YangDipakai
Nama Kelompok Barang
Kode Barang
Jumlah Barang








http://psb-psma.org/content/blog/pengelolaan-lab-bagian-4-administrasi-fasilitas-di-laboratorium

Untuk memudahkan pemeriksaan alat dan bahan laboratorium perlu dilakukan inventarisasi yang sistematik. Inventarisasi ini dapat dibuat pada suatu  buku atau
secara komputasi sebagai daftar induk. Hal-hal yang umum diperlukan pada inventarisasai mencakup:
1.  Kode Alat/bahan
2.  Nama alat/bahan
3.  Spesifikasi alat/bahan (Merk, tipe,  dan pabrik pembuat alat)
4.  Sumber pemberi alat dan tahun pengadaannya
5.  Tahun penggunaan
6.  Jumlah atau  kuantitas
7.  Kondisi alat, baik atau rusak
Setiap alat / barang /bahan / zat yang masuk atau diterima di Madrasah, baik yang
berasal dari permintaan sekolah melalui usulan mapun yang berasal dari bantuan (dropping) harus dicatat dalam daftar penerimaan alat/bahan. Contoh formatnya adalah sebagai berikut:


  Alat atau barang dan bahan atau zat  yang telah diterima, selanjutnya
didokumentasikan dalam daftar induk inventaris alat dan daftar induk inventaris bahan. Kedua bentuk daftar tersebut contohnya adalah sebagai berikut:

Selain daftar inventarisasi alat dan bahan, perlu pula dibuat kartu alat/barang dan
kartu bahan/zat. Kartu-kartu tersebut berfungsi untuk menertibkan, mengendalikan dan sekaligus mengawasi penggunaan alat dan bahan. Penanggung jawab laboratorium dapat melihat sejauhmana efektivitas dan efisiensi penggunaan alat dan bahan berdasarkan kartu-kartu tersebut. 

http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._FISIKA/195801071986031SUTRISNO/Perkuliahan/Bahan_ajar/Laboratorium_Fisika_Sekolah_I/LABORATORIUM_FISIKA_SEKOLAH.pdf

Selama ini pengelolaan laboratorium sekolah belum dapat dilakukan sebagaimana mestinya. Bahkan terkesan ruang laboratorium yang dibangun tidak berfungsi. Tidak sedikit ruangan yang dibangun bagi kegaiatan laboratorium sekolah ada yang berubah fungsi. Tentu saja hal tersebut sangat disayangkan dan merugikan. Banyak faktor-faktor yang menyebabkan bergesernya laboratorium sebagai tempat untuk mengamati, menemukan, dan memecahkan suatu masalah manjadi ruang kelas ataupun gudang, antara lain :
1.      Kurangnya kemampuan dalam mengelola laboratorium sekolah.
2.      Kurangnya pemahaman terhadap makna dan fungsi laboratorium sekolah serta implikasinya bagi pengembangan dan perbaikan sistem pembelajaran IPA. Ironisnya keberadaan laboratorium sekolah dianggap membebani sehingga jarang dimanfaatkan sebagai mana mestinya.
3.      Terbatasnya kemampuan guru dalam penguasaan mata pelajaran.
4.      Belum meratanya pengadaan dan penyebaran alat peraga Kit IPA sehingga menyulitkan bagi pusat kegiatan guru untuk menjalankan fungsi pembinaannya kepada para guru.
Berdasarkan hasil pemantauan Direktorat Pendidikan Menengah Umum dan Inspektorat Jendral dalam Anonim (2003), Laboratorium IPA-Fisika yang pemanfaatan dan pengelolaannya sebagai sumber belajar yang belum optimal atau tidak digunakan disebabkan oleh berbagai faktor antara lain:
1. Kemampuan dan penguasaan guru terhadap peralatan dan pemanfaatan bahan praktek masih belum memadai
2. Kurang memadai baik secara kualitas maupun kuantitas tenaga laboratorium
3. Banyak alat-alat laboratorium dan bahan yang sudah rusak yang belum diadakan kembali
4. Tidak cukupnya/terbatasnya alat-alat dan bahan mengakibatkan tidak setiap siswa mendapat kesempatan belajar untuk mengadakan eksperimen.
Dalam proses belajar mengajar diperlukan berbagai peralatan yang memadai untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Dalam hal ini alat peraga mempunyai peranan yang sangat penting bahkan dapat menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan proses belajar mengajar. Secara garis besar alat peraga, ada yang mudah dibuat dan ada yang sukar dibuat. Alat yang mudah dibuat dinamakan alat peraga sederhana karena dapat menggunakan bahan murah dan mudah didapat dari lingkungan sekitar dan dapat pula dibuat sendiri oleh guru atau bersama-sama dengan peserta didik. Penggunaan dan pembuatan alat peraga sederhana dapat merangsang kreativitas para guru atau peserta didik untuk mengembangkan kemampuannya dalam membuat alat peraga, sedangkan alat yang sukar akan dibuatkan oleh instansi yang memerlukan dan kemudianidisebarkan ke sekolah (Emha, 2002). Adapun administrasi alat praktek IPA menurut sukarso (2005), terdiri dari beberapa bagian antara lain :
1. Kartu stok adalah untuk mengetahui jumlah alat/bahan yang tersedia di laboratorium dan tempat penyimpanannya
2. Buku inventaris, memuat catatan tentang jumlah semua macam barang yang ada di laboratorium termasuk perabot laboratorium
3. Daftar alat/bahan sesuai LKS
4. Buku harian kegiatan laboratorium berguna untuk merekam semua kejadian dalam kegiatan laboratorium
5. Label, memuat kode alat, nama alat dan jumlah alat dan keterangan mengenai kondisi alat tersebut
6. Format permintaan alat/bahan, biasanya diisi oleh guru bila akan melaksanakan kegiatan laboratorium dan diberikan kepada laboran sebelum kegiatan dilakukan
7. Jadwal kegiatan laboratorium.
Untuk melaksanakan kegiatan di laboratorium fisika perlu perencanaan yang sistematis agar dapat dicapai tujuan pembelajaran secara optimal. Kegiatan praktikum fisika dapat dilaksanakan di dalam laboratorium atau di luar laboratorium (di lapangan), tergantung pada kepentingannya di dalam membahas konsep dan subkonsep. Dalam hal ini guru fisika dengan pertimbangannya dapat mengetahui alat mana yang dapat di bawa ke lapangan dan mana yang harus ada di laboratorium atau tidak mungkin di bawa ke luar.
Dalam anonim (2003), Langkah-langkah praktis pelaksanaan kegiatan laboratorium fisika adalah sebagai berikut :
1. Guru Fisika pada awal tahun pelajaran dan semester sebaiknya menyusun program semester yang ditanda tangani oleh kepala sekolah. Tujuannya untuk mengidentifikasi kebutuhan alat/bahan serta menyusun jadwal dan untuk keperluan supervisi bagi kepala sekolah.
2. Setiap akan melaksanakan kegiatan laboratorium, guru sebaiknya mengisi format permintaan/peminjaman alat/bahan kemudian diserahkan kepada penanggung jawab teknis laboratorium atau laboran. Ini diperlukan untuk mempersiapkan alat/bahan serta mengecek fungsi tiap-tiap alat.
3. Di laboratorium, guru tidak hanya memberikan bimbingan kepada siswa untuk melakukan eksperimen, tetapi guru dapat pula menyampaikan konsep atau subkonsep non eksperimen, yang memerlukan alat bantu, misalnya cara menggunakan osiloskop.
4. Kegiatan di lapangan juga dapat dilakukan yang merupakan laboratorium alam. Dalam melaksanakan kegiatan di laboratorium alam ini adalah untuk menyampaikan atau menerapkan aplikasi-aplikasi dari materi fisika dalam kehidupan sehari-hari. Guru harus sudah menyiapkan fasilitas, alat seadanya ataupun siap memberikan pemahan konsep tentang aplikasi dari materi.
Kegiatan praktikum fisika dapat dan seharusnya dilaksanakan di laboratorium, baik laboratorium yang disiapkan terlebih dahulu yang dilengkapi dengan segala macam peralatan yang dibutuhkan untuk praktik, dapat pula di laboratorium alam yang memiliki fasilitas seadanya sesuai dengan alam yang ada disekitar sekolah. Laboratorium ini diharapkan dapat menempatkan cara belajar fisika sebagaimana seharusnya yang akan dapat melibatkan siswa belajar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sehingga siswa dapat lebih memahami materi dibandingkan dengan pembelajaran biasa.

 

BAB III
PROSEDUR PERCOBAAN

A.    Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan adalah:

1.      Kertas HVS
2.      Alat tulis
3.      Penggaris
4.      Fasilitas didalam KIT ( yaitu terdiri atas Bola lampu, Kabel penghubung merah,  Kabel penghubung hitam, Papan rangkaian, Jembatan penghubung, Switch,  Pemegang lampu, Potensiometer 10 kῼ, resistor 47 Ω, resistor 100 Ω, Resistor 470 ῼ, Resistor 10ῼ ,Model kompas, Kawat nikrom, Kawat konstanta, Kumparan 500 lilitan, kumparan 1000 lilitan,Jepit steker, Inti besi I, Inti besi U , Transistor 250438, LDR, Kapasitor1 μf,  Kapasitor 470 µf, kapasitor 1000 μf, Dioda IN4002, Lampu Neon ,Magnet batang Alnico, Potensiometer 50 kΩ

B.     Prosedur Pengamatan
Langkah atau prosedur kerja pada pengamatan inventarisasi alat di laboratorium pendidikan fisika adalah :
1.      Mengambil KIT dari dalam ruang persiapan laboratorium.
2.      Meletakkan KIT diatas meja pengamatan dan memulai membuka KIT.
3.      Mengamati alat-alat di dalam Kit dan memulai untuk membongkar KIT.
4.      Setelah isi KIT dikeluarkan, KIT kemudian di susun secara rapi dan dimasukkan sesuai dengan petunjuk alat yang terdapat pada permukaan dalam KIT.
5.      Setelah menyusun dan merapikan isi KIT, mencatat fasilitas apa saja yang ada didalam KIT, kemudian jumlah, fungsi, alat-alat KIT dalam kondisi baik atau rusak, serta cara memperbaiki dan mengidentifikasi KIT tersebut termasuk KIT lengkap atau KIT tidak lengkap.
 





HASIL PEGAMATAN DAN PEMBAHASAN


PENGADMINISTRASIAN FASILITAS  PENUNJANG LABORATORIUM PEMBELAJARAN FISIKA

Nama kit
Nama masing-msing komponen
Spesifikasi
Fungsi
Tiap-tiap komponen
Kerusakanyang timbul
Alternatif perbaikan
 Jumlah komponen
Merk
Ukuran
Pabrik
Listrik
magnet
Bola lampu
-
-
p.sains
Bola lampu yang berfungsi untuk menandakan adanya arus listrik
putus atau pecah.
Mengganti nya dengan yang baru
4
Dioda IN 4002
-
-
p.sains
Penyearah arus
patah pada kakinya atau kerusakan pada badan dioda
Jika kerusakan yang timbul adalah patah kaki, maka dapat menyambungnya dengan menyolder ulang, tetapi jika patah pada pangkal badan maka harus diganti dengan yang baru. Jika kerusakan disebabkan karena badan diode misalnya hambatan dalamnya semakin membesar sehingga arus tidak lagi mengalir maka harus diganti dengan yang baru.
4
Inti besi I

-
p.sains
meningkatkan medan magnetik untuk arus yang diketahui dan meningkatkan medan magnetik ini agar seluruh fluks magnetik yang melalui satu kumparan masuk melalui kumparan lain.
patah
diganti dengan inti magnet yang baru.

1
Inti besi U
-
-
p.sains
meningkatkan medan magnetik untuk arus yang diketahui dan meningkatkan medan magnetik ini agar seluruh fluks magnetik yang melalui satu kumparan masuk melalui kumparan lain.
Patah
Diganti dengan inti magnet yang baru
1
Jembatan penghubung
-
-
p.sains
Konduktor yang menghubungkan arus pada rangkaian antara yang satu dengan yang lain nya
Retak atau patah
diisolasi atau di lem,atau  diganti dengan yang baru.

10
Jepit steker
-
-
p.sains
penjepit
Patah
Diisolasi atau di sambung
4
Kabel peghubung hitam
-
-
p.sains
Penghubung catudaya-rangkaian
putus
Menyambung kabel dengan jalan menyatukan serat yang terdapat di dalam kabel kemudian di isolasi. Tetapi apabila terjadi putusnya kabel dengan colokan, maka harus d ganti.
2
Kabel penghubung merah
-
-
p.sains
Penghubung catudaya-rangkaian
putus
Menyambung kabel dengan jalan menyatukan serat yang terdapat di dalam kabel kemudian di isolasi. Tetapi apabila terjadi putusnya kabel dengan colokan, maka harus d ganti.
2
Kabel nikrom
-
-
p.sains
Untuk pengahantar listrik
Terbentuk patahan pada kabel nikrom atau pemipihan pada kabel nikrom sehingga luas penampangnya berubah.
Memotong bagian yang terjadi patahan atau pemipihan dan menggunakan kabel nikrom yang masih mulus. Jika sudah tidak terdapat kabel yang masih bagus, maka diganti dengan yang baru.
2
Kawat konstanta
-
-
p.sains
Untuk pengahantar listrik
Terbentuk patahan pada kabel konstanta atau pemipihan pada kabel konstanta sehingga luas penampangnya berubah.
Memotong bagian yang terjadi patahan atau pemipihan dan menggunakan kabel konstanta yang masih mulus. Jika sudah tidak terdapat kabel yang masih bagus, maka diganti dengan yang baru.
2
Kapasitor
-
10 μf
p.sains
Untuk menyimpan muatan listrik
putus
Disambung atau diganti dengan yang baru
1
Kapasitor
-
470 μf
p.sains
Untuk menyimpan muatan listrik
Putus pada kaki kapasitor
Disambung kembali dengan cara menyoldernya atau jika patah pada pangkal badan kapasitor maka harus d ganti yang baru.
1
Kapasitor
-
1000μf
p.sains
Untuk menyimpan muatan listrik
Putus pada kaki kapasitor
Disambung kembali dengan cara menyoldernya atau jika patah pada pangkal badan kapasitor maka harus d ganti yang baru.
1
Kumparan
-
500 lilitan
p.sains
Transformasi tegangan dan arus
putus
Diisolasi atau disambung
1
Kumparan
-
1000 lilitan
p.sains
Transformasi tegangan dan arus
putus
Diisolasi atau disambung
1
LDR
-
-
p.sains
resistor
putus
Diganti dengan yang baru
1
Magnet
-
-
p.sains
Menunjukkan arah pada kompas
patah
Diganti dengan yang baru
1
Model kompas
-
-
p.sains
Penunjuk arah
Penunjuk arahnya tidak bergerak
Mengganti dengan yang baru
1
multitester
-
-
p.sains
Mengukur arus,hambatan, tegangan
putus
Diganti dengan yang baru
1
Pemegang lampu
-
-
p.sains
Penegak lampu
patah
Diisolasi
2
Potensiometer
-
10 kῼ
p.sains
Mengatur arus listrik yang mengalir
putus
Diganti dengan yang baru
1
Potensiometer
-
50 kῼ
p.sains
Mengatur arus listrik yang mengalir
putus
Diganti dengan yang baru
1
Resistor
-
10 kῼ
p.sains
untuk memberikan perlawanan terhadap aliran listrik yang mengalir ke dalam perangkat listrik.
Putus
Mengganti dengan yang baru
1
Resistor
-
470kῼ
p.sains
untuk memberikan perlawanan terhadap aliran listrik yang mengalir ke dalam perangkat listrik.
Putus
Mengganti dengan yang baru
1
Papan Rangkaian
-
-
p.sains
Tempat merangkai alat percobaan
Pecah atau retak
Dilem atau diganti dengan yang baru
1

Switch
-
-
p.sains
Menyambung dan memutuskan aliran listrik
Kerusakan kumparan yang ada didalam
Diganti dengan yang baru
1

Transistor 250638
-
-
p.sains
Penguat tegangan dan arus
putus
Disambung atau diganti dengan yang baru
1
                                                    







BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil pengamatan dan pembahasan maka dapat disimpulkan :
1.      Pengadministrasian suatu barang ( alat dan bahan) mencakup kegiatan yang sangat luas, mulai dari perencanaan kebutuhan  pengadaan , penyimpanan termasuk penggudangan , pendistribusian , pemakaian, dan penghapusan
2.      KIT lengkap yaitu KIT yang fasilitas didalamnya memenuhi standar fasilitas laboratorium yang terdapat di permukaan dalam KIT
3.       KIT semi lengkap adalah KIT yang alat da fasilitas didalamnya hanya terdiri dari sebagian alat-alat yang memenuhi standar fasilitas kelengkapan KIT laboratorium yang terdapat dipermukaan bagian dalam kotak
4.      KIT tidak lengkap adalah KIT yang hanya berisi beberapa alat atau fasilitas yang tidak dapat menunjang kelancaran praktikum atau percobaan serta tidak sama sekali memenuhi standar fasilitas kelengkapan alat laboratorium yang ada di permukaan bagian dalam KIT.
5.      Mengetahui fungsi dari masing-masing komponen sangat diperlukan dalam mengelola administrasi Laboratorium.
6.      Pengelola laboratorium harus mengetahui kerusakan yang mungkin terjadi pada setiap komponen agar segera melakukan perbaikan.
7.      Apabila kerusakan yang terjadi pada komponen tersebut masih ringan maka dapat diatasi dengan menyambung dan mengisolasi atau mengelem komponen yang rusak.
8.      Apabila kerusakan yang terjadi sudah berat dan tidak bisa diperbaiki lagi maka komponen tersebut diganti dengan yang baru.




DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2013. http://myeducationuniversity.blogspot.com. Di unduh Mei 2013.

0 komentar:

Post a Comment

bagus sangat membatu bagi kami
sering-seringlah enteri file yang baru
kami merasa senang dan bangga atas kebedradaan blog ini