Saturday, 17 January 2015

Luar Biasa !!, Gaji Guru IIIA Di Daerah ini Rp 15 Juta per Bulan


akj

Luar Biasa !!, Gaji Guru IIIA Di Daerah ini Rp 15 Juta per Bulan

“Mereka sudah lebih sejahtera. Bayangkan saja, seorang guru dengan pangkat IIIA saja bergaji Rp 8 juta/bulan. Bisa lebih, bisa sampai Rp 15 juta, tergantung besar-kecilnya insentif pemda,” ungkap Musyahrim diSamarinda, Sabtu (17/1/2015).
Dikatakan, angka Rp 8 juta itu merupakan kalkulasi gaji dan tunjangan. Gaji guru dengan pangkat IIIA adalah Rp 4 juta. Tunjangan sertifikasi sebesar satu bulan gaji, sehingga Rp 8 juta. Para guru masih mendapat insentif dari provinsi dan kabupaten/kota. Besaran dana insentif berbeda-beda setiap kabupaten/kota, antara Rp 1 juta sampai Rp 3 juta. Di Kutai Kartanegara misalnya, insentif untuk guru hingga Rp 3 juta.
Dengan demikian, seorang guru IIIA bisa membawa pulang pendapatan sebesar Rp 9 juta sampai  Rp 12 juta. Untuk pangkat yang lebih tinggi dapat mencapai Rp 15 juta. Dalam penggolongan yang berlaku di pegawai negeri sipil, seorang pegawai dengan pendidikan Sarjana (Strata 1) digolongkan di IIIA. Guru sebagai tenaga fungsional juga memungkinkan untuk naik golongan lebih cepat, sekitar  2 tahun. Sedang pegawai negeri struktural, biasanya memerlukan waktu empat tahun sekali.
Menurut Musyahrim, dengan gaji yang sudah cukup besar itu, kinerjaguru mestinya menjadi lebih baik. Mereka harus menjunjung tinggi martabat dan profesinya sebagai seorang pendidik yang harus mencerdaskan anak bangsa. Terlebih dengan pelaksanaan Kurikulum 2013, diperlukan kemampuan guru untuk lebih kreatif dalam metode mengajar agar anak didik dapat lebih secara utuh memahami materi pelajaran. “Jangan justru sebaliknya, mentang-mentang sudah dapat tunjangan profesi lantas jadi seenaknya,” jelasnya.
Ia mengingatkan, pemerintah bisa mencabut sertifikasi profesi guruapabila kinerja guru terbukti buruk. Meski sejauh ini menurutnya belum pernah ada sertifikasi profesi yang dicabut, namun tidak sedikit tunjangan profesi yang tidak dibayarkan karena guru tidak dapat memenuhi syarat jumlah jam mengajar. “Ada (tunjangan profesi yang tidak dibayarkan). Cukup banyak,” kata Musyahrim tanpa menyebut rinci jumlah guru yang tunjangan profesinya tidak dibayarkan karena mengajar kurang dari 24 jam/minggu.
Aturan mengajar 24 jam dalam seminggu merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan tunjangan profesi. Kenyataannya, masih cukup banyak guru
yang kesulitan untuk memenuhi syarat itu, antara lain karena berkurangnya jumlah jam untuk pelajaran tertentu. “Sebenarnya ini tidak perlu terjadi kalau mereka tidak menumpuk di satu-dua sekolah tertentu. Saya kira Dinas Pendidikan Kota/Kabupaten harus bisa melakukan redistribusi guru. Jangan biarkan cuma di sekolah favorit saja. Banyak sekolah di pinggiran yang masih kekurangan guru. Dengan begitu mereka juga tak perlu kekurangan jam mengajar,” ujar Musyahrim.(*)

0 komentar:

Post a Comment

bagus sangat membatu bagi kami
sering-seringlah enteri file yang baru
kami merasa senang dan bangga atas kebedradaan blog ini