Sunday, 4 January 2015

Bahan Bakar Etanol


Ethanol-3D-ballsBahan bakar etanol adalah etanol (etil alkohol) dengan jenis yang sama dengan yang ditemukan pada minuman beralkohol dengan penggunaan sebagai bahan bakar. Etanol seringkali dijadikan bahan tambahan bensin sehingga menjadi biofuel. Produksi etanol dunia untuk bahan bakar transportasi meningkat 3 kali lipat dalam kurun waktu 7 tahun, dari 17 miliar liter pada tahun 2000 menjadi 52 miliar liter pada tahun 2007. Dari tahun 2007 ke 2008, komposisi etanol pada bahan bakar bensin di dunia telah meningkat dari 3.7% menjadi 5.4%.  Pada tahun 2010, produksi etanol dunia mencapai angka 22,95 miliar galon AS (86,9 miliar liter), dengan Amerika Serikat sendiri memproduksi 13,2 miliar galon AS, atau 57,5% dari total produksi dunia. Etanol mempunyai nilai “ekuivalensi galon bensin” sebesar 1.500 galon AS.
Etanol digunakan secara luas di Brasil dan Amerika Serikat. Kedua negara ini memproduksi 88% dari seluruh jumlah bahan bakar etanol yang diproduksi di dunia. Kebanyakan mobil-mobil yang beredar di Amerika Serikat saat ini dapat menggunakan bahan bakar dengan kandungan etanol sampai 10%, dan penggunaan bensin etanol 10% malah diwajibkan di beberapa kota dan negara bagian AS. Sejak tahun 1976, pemerintah Brasil telah mewajibkan penggunaan bensin yang dicampur dengan etanol, dan sejak tahun 2007, campuran yang legal adalah berkisar 25% etanol dan 75% bensin (E25). Di bulan Desember 2010 Brasil sudah mempunyai 12 juta kendaraan dan truk ringan bahan bakar fleksibel dan lebih dari 500 ribu sepeda motor yang dapat menggunakan bahan bakar etanol murni (E100).
Bioethanol adalah salah satu bentuk energi terbaharui yang dapat diproduksi dari tumbuhan. Etanol dapat dibuat dari tanaman-tanaman yang umum, misalnya tebukentangsingkong, dan jagung. Telah muncul perdebatan, apakah bioetanol ini nantinya akan menggantikan bensin yang ada saat ini. Kekhawatiran mengenai produksi dan adanya kemungkinan naiknya harga makanan yang disebabkan karena dibutuhkan lahan yang sangat besar, ditambah lagi energi dan polusi yang dihasilkan dari keseluruhan produksi etanol, terutama tanaman jagung. Pengembangan terbaru dengan munculnya komersialisasi dan produksi etanol selulosa mungkin dapat memecahkan sedikit masalah.
Etanol selulosa menawarkan prospek yang menjanjikan karena serat selulosa, komponen utama pada dinding sel di semua tumbuhan, dapat digunakan untuk memproduksi etanol. Menurut Badan Energi Internasional etanol selulosa dapat menyumbangkan perannya lebih besar di masa mendatang.

Kimia

Glukosa (gula sederhana) dibuat oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis.
6 CO2 + 6 H2O + cahaya matahari → C6H12O6 + 6 O2
Dalam fermentasi etanolglukosa akan dipecah menjadi etanol dan karbon dioksida.
C6H12O6 → 2 CH3CH2OH+ 2 CO2 + panas
Ketika etanol dibakar (direaksikan dengan oksigen) maka akan dihasilkan karbon dioksida, air, dan panas:
CH3CH2OH + 3 O2 → 2 CO2 + 3 H2O + panas
Setelah reaksi pembakaran digandakan (karena didapatkan 2 molekul etanol dari tiap molekul glukosa]], dan ditambahkan 3 reaksi bersamaan, maka jumlah atom di sebelah kiri akan sama dengan jumlah atom di sebelah kanan pada persamaan tersebut, maka reaksi bersih dari produksi dan konsumsi etanol hanya berupa:
cahaya → panas
Panas yang dihasilkan dari pembakaran etanol digunakan untuk menggerakkan piston pada mesin. Dapat dikatakan bahwa cahaya matahari digunakan untuk menjalankan mesinnya.
Bukan hanya glukosa saja yang dapat difermentasi. Gula lainnya seperti fruktosa juga dapat digunakan untuk fermentasi. 3 macam gula lainnya juga dapat difermentasi dengan memecahnya melalui hidrolisis menjadi molekul-molekul glukosa atau fruktosa. Amilum dan selulosa adalah molekul yang terdiri dari ikatan-ikatan glukosa. Sukrosa (atau gula tebu) merupakan molekul glukosa yang berikatan dengan molekul fruktosa. Energi untuk membuat fruktosa berasal dari metabolisme glukosa yang diperoleh dari fotosintesis (yang membutuhkan sinar matahari). Maka dari itu, sinar matahari jga menyediakan energi yang dihasilkan oleh fermentasi dari molekul-molekul ini.
Etanol juga dapat diproduksi dari etena (etilena). Dengan penambahan air ke dalam etena maka akan mengubah etena menjadi etanol:
C2H4 + H2O → CH3CH2OH
Ketika etanol dibakar di atmosfer (bukan di oksigen murni), maka akan ada reaksi kimia yang lain yang menghasilkan 4 komponen kimia lainnya, termasuk dengan gas nitrogen (N2). Gas nitrogen dapat menimbulkan munculnya nitrogen oksida, salah satu polutan utama di udara.

Sumber

Etanol merupakan salah satu sumber energi terbaharui karena energi ini didapatkan dari energi matahari. Pembuatan etanol diawali tanaman seperti tebu atau jagung yang melakukan fotosintesis sehingga tumbuh sampai besar. Nantinya tanaman ini yang diproses menjadi etanol.
Sekitar 5% dari etanol yang diproduksi di dunia pada tahun 2003 sebenarnya malah merupakan produk minyak bumi. Etanol dari minyak bumi ini dibuat dengan hidrasi katalis dari etilena dengan memakai asam sulfat sebagai katalisnya. Etanol juga bisa dihasilkan via etilena atauasetilenakalsium karbida, gas bumi, dan sumber lainnya. 2 juta ton etanol yang berasal dari minyak mentah dihasilkan setiap tahunnya. Etanol yang berasal dari minyak bumi (etanol sintetik) secara kimia sama dengan bio etanol dan hanya bisa dibedakan melalui penanggalan radiokarbon.
Bio-etanol biasanya diperoleh dari tanaman pertanian. Tanaman pertanian ini dianggap bisa diperbaharui karena mereka mendapatkan energi dari matahari melalui fotosintesis. Etanol dapat diproduksi dari banyak macam tanaman seperti tebubagassemiscanthusbit gulasorgum, grain sorghumswitchgrassjelaihempkenafkentangubi jalarsingkongbunga mataharibuahmolassesjagungstoverserealia,gandumstrawkapasbiomassa lainnya, termasuk berbagai macam sampah selulosa.
Sebuah proses alternatif untuk memproduksi bioetanol dari algae (rumput laut) saat ini sedang dikembangkan oleh perusahaan Algenol. Daripada algae hanya ditanam dan lalu dipanen jika sudah matang, algae dapat memproduksi etanol secara langsung tanpa membunuh tanaman itu sendiri. Diklaim bahwa proses dari algae ini dapat menghasilkan 6000 galon per acre per tahun, daripada tanaman jagung yang hanya 400 galon per acre per tahun.
Saat ini, pemrosesan etanol generasi pertama untuk memproduksi etanol dari jagung hanya menggunakan sebagian kecil dari tanaman jagung itu sendiri. Hanya bagian amilum dari kernel jagung saja yang diproses menjadi etanol. Amilum ini massanya hanya 50% dari massa kernel kering. 2 pemrosesan tingkat lanjut sedang dikembangakan saat ini. Proses tersebut adalah penggunaan enzim dan fermentasi ragi untuk mengubah selulosa tanaman menjadi etanol. Proses yang kedua adalah menggunakan pirolisis untuk mengubah seluruh bagian tanaman menjadi cairan minyak bio atau syngas. Pemrosesan generasi kedua ini juga bisa digunakan untuk tanaman lain misalnya rumput-rumputan atau kayu.

Proses produksi

Langkah dasar yang dibutuhkan untuk memproduksi etanol adalah fermentasi jamur khamirdistilasidehidrasi, dan denaturasi. Sebelum dilakukan fermentasi, beberapa tanaman membutuhkan hidrolisis karbohidrat seperti selulosa dan amilum menjadi gula. Hidrolisis selulosa disebut sebagaiselulosis. Enzim digunakan untuk mengubah amilum menjadi gula.

Fermentasi

Etanol diproduksi dengan cara fermentasi mikroba pada gula. Fermentasi mikroba saat ini hanya bisa dilakukan langsung pada gula. 2 komponen utama dalam tanaman, amilum dan selulosa, dua-duanya terdiri dari gula dan bisa diubah menjadi gula melalui fermentasi. Sekarang ini, hanya gula (contohnya tebu) dan amilum (contohnya jagung) yang masih bernilai ekonomis jika dikonversi.

Distilasi

Jika etanol ingin digunakan sebagai bahan bakar, maka sebagian besar kandungan airnya harus dihilangkan dengan cara distilasi. Tingkat kemurnian etanol setelah didistilasi masih sekitar 95-96%. (masih ada kandungan airnya 3-4%). Campuran ini dinamakan etanol hidrat dan bisa digunakan sebagai bahan bakar, tapi tidak bisa dicampur sama sekali dengan bensin. Jadi, biasanya kandungan air dalam etanol hidrat dibuang habis terlebih dahulu dengan pengolahan lainnya sehingga baru bisa dicampurkan dengan bensin.

Dehidrasi

Pada dasarnya ada 5 tahap proses dehidrasi untuk membuang kandungan air dalam campuran etanol azeotropik (etanol 95-96%). Proses yang pertama, yang sudah digunakan di banyak pabrik etanol sejak dulu, adalah proses yang disebut distilasi azeotropik. Distilasi azeotropik dilakukan dengan cara menambahkan benzena atau sikloheksana ke dalam campuran. Ketika zat ini ditambahkan, maka akan membentuk campuran azeotropik heterogen. Hasil akhirnya nanti adalah etanol anhidrat dan campuran uap dari air dan sikloheksana/benzena. Ketika dikondensasi, uap ini akan menjadi cairan. Metode lama lainnya yang digunakan adalah distilasi ekstraktif. Metode ini digunakan dengan cara menambahkan komponen terner dalam etanol hidrat sehingga akan meningkatkan ketidakstabilan relatif etanol tersebut. Ketika campuran terner ini nantinya didistilasi, maka akan menghasilkan etanol anhidrat.
Saat ini penelitian juga sedang mengembangkan metode pemurnian etanol dengan menghemat energi. Metode yang saat ini berkembang dan mulai banyak digunakan oleh pabrik-pabrik pembuatan etanol adalah penggunaan saringan molekul untuk membuang air dari etanol. Dalam proses ini, uap etanol bertekanan melewati semacam tatakan yang terdiri dari butiran saringan molekul. Pori-pori dari dari saringan ini dirancang untuk menyerap air. Setelah beberapa waktu, saringan ini pun divakum untuk menghilangkan kandungan air di dalamnya. 2 tatakan biasanya digunakan sekaligus sehingga ketika satu sedang dikeringkan, yang satunya bisa dipakai untuk menyaring etanol. Teknologi dehidrasi ini diperkirakan dapat menghemat energi sebesar 3.000 btus/gallon (840 kJ/L) jika dibandingkan dengan distilasi azeotropik.

Teknologi

Mesin berbahan bakar etanol

Etanol merupakan cairan yang sering digunakan pada mobil, meskipun juga mungkin digunakan pada kendaraan lainnya, seperti traktor, perahu, dan pesawat terbang. Konsumsi etanol dalam mesin lebih boros 51% dibandingkan bensin, karena energi per unit volume etanol 34% lebih rendah dibandingkan dengan bensin. Rasio kompresi pada mesin yang berbahan bakar etanol saja, dapat membuat mesin ini lebih bertenaga dan lebih irit bahan bakar. Pada umumnya, mesin yang hanya berbahan bakar etanol dikonfigurasi untuk menambahkan sedikit tambahan tenaga dan torsi yang lebih baik dibandingkan dengan mesin berbahan bakar bensin. Pada kendaraan bahan bakar fleksibel, rasio kompresi yang lebih rendah menyebabkan mesinnya perlu dikonfigurasi ulang, sehingga bisa mendapatkan keluaran tenaga yang sama saat memakai bahan bakar bensin atau etanol. Untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari etanol, maka rasio kompresi harus dinaikkan. Rasio kompresi pada mobil bermesin berbahan bakar etanol murni saat ini didesain kira-kira lebih boros 20-30% dibandingkan dengan versi bahan bakar bensinnya.
Etanol mengandung bahan-bahan yang dapat larut dan tidak dapat larut. Bahan-bahan yang dapat larut, yaitu ion-ion klorida, mempunyai sifat korosifIon halida meningkatkan korosi dengan 2 cara: secara kimia, ion ini akan menyerang pasivator film oksida pada logam sehingga akan menimbulkan korosi, dan kedua, ion ini akan meningkatkan konduktivitas bahan bakar. Konduktivitas elektrik yang meningkat menyebabkan korosi pada elektrik dan galvanis pada sistem bahan bakar. Bahan-bahan yang dapat larut, seperti aluminium hidroksidayang merupakan produk dari ion halida tadi, akan menyumbat sistem bahan bakar sedikit demi sedikit.
Etanol bersifat higroskopis, yang artinya etanol akan menyerap uap air langsung dari atmosfer. Karena menyerap air akan mengencerkan nilai bahan bakar etanol (dan juga akan menimbulkan knocking pada mesin), maka dalam pengepakannya, bahan bakar etanol harus ditutup rapat. Karena etanol dengan amat mudah bercampur dengan air, maka etanol tidak dapat didistribusikan dengan pipa yang lebih efisien dan modern.  Para teknisi sekarang juga melihat dampak yang ditimbulkan karena adanya kandungan air dalam etanol yang menyebabkan kerusakan pada mesin-mesin kecil, terutama pada karburatornya.
Sebuah studi yang dilakukan oleh MIT pada tahun 2004 dan sebuah paper yang dipublikasika oleh Society of Automotive Engineers mengidentifikasikan sebuah metode yang lebih baik untuk mengeksplorasi karakteristik bahan bakar etanol daripada jika hanya mencampurkannya dengan bensin. Metode ini akan memunculkan kemungkinan bahwa alkohol nantinya akan memperbaiki efektifitas pada mobil elektrik hibrida. Perubahan ini akan menggunakan mesin 2 bahan bakar (dual-fuel) yaitu alkohol murni (atau azeotrop atau E85) dengan injeksi langsung turbocharger, dengan rasio kompresi tinggi, volume silinder kecil, tapi menghasilkan tenaga yang sama dengan mesin yang memiliki volume silinder 2 kalinya. Setiap bahan bakar akan ditempatkan terpisah, dengan tangki alkohol yang berukuran jauh lebih kecil. Mesin berkompresi tinggi ini (yang berarti juga efisiensinya tinggi), akan menggunakan bahan bakar bensin pada kondisi daya jelajah rendah. Alkohol hanya akan diinjeksikan ke silinder ketika dibutuhkan, yaitu misalnya saat ingin berakselerasi dengan cepat. Injeksi silinder langsung ini akan meningkatkan nilai oktan etanol yang sudah tinggi sampai 130. Dari sini, penggunaan bensin serta emisi gas buang akan berkurang sampai 30%.
Nilai oktan etanol yang lebih tinggi meningkatkan rasio kompresi mesin dan juga meningkatkan efisiensi termal. Dalam sebuah studi, kontrol mesin yang kompleks ditambah sirkulasi ulang pipa gas buang yang ditingkatkan bisa meningkatkan rasio kompresi sampai 19,5 dengan bahan bakarnya etanol murni sampai E50. Hal ini nantinya akan menghasilkanekonomi bahan bakar mobil etanol sama dengan ekonomi bahan bakar mobil bensin.
Sejak tahun 1989 juga telah dioperasikan mesin etanol yang memakai basis dari mesin diesel di Swedia. Mesin-mesin ini dipakai di bus kota, juga digunakan di truk-truk distribusi dan pengangkut sampah. Mesin ini dibuat oleh perusahaan Scania, mempunyai rasio kompresi yang telah dimodifikasi dan bahan bakarnya adalah 93.6 % etanol dan 3.6 % peningkat pembakaran, dan 2.8% denaturan (bahan bakar ini disebut sebagai ED95). Adanya peningkat pembakaran memungkinkan mesin ini melakukan pembakaran seefisien dengan siklus pembakaran pada mesin diesel. Mesin-mesin ini telah digunakan di Britania Raya oleh Reading Transport tapi penggunaan bahan bakar bioetanol saat ini akan ditutup.

Menyalakan mobil di musim dingin

Campuran etanol yang tinggi akan memunculkan masalah yaitu kurangnya tekanan uap bahan bakar tersebut sehingga susah untuk menguap dan memicu pembakaran di musim dingin selagi musim dingin (hal ini terjadi karena etanol cenderung menaikkan kalor penguapan bahan bakar).) Ketika tekanan uap kurang dari 45 kPa maka mesin akan suusah untuk dinyalakan. Maka, untuk menghindari masalah ini, terutama ketika suhu kurang dari 11 °C (52 °F), maka pemerintah Amerika Serikat dan Uni Eropa sepakat untuk menggunakan E85 sebagai campuran etanol maksimum yang digunakan di kendaraan bahan bakar fleksibel di negara mereka. Di tempat-tempat yang suhunya sangat dingin, pemerintah Amerika Serikat mengurangi campuran etanol pada bahan bakar menjadi E70, meskipun namanya tetap dijual sebagai E85. Selain itu, di tempat yang suhunya turun sampai dibawah −12 °C (10 °F), maka disarankan untuk menambahkan sistem pemanas mesin, berlaku untuk bensin dan kendaraan E85. Pemerintah Swedia juga mempunyai sistem pengurangan campuran etanol ini, mereka mengurangi campuran etanol menjadi E75 selagi musim dingin.
Kendaraan bahan bakar fleksibel di Brasil dapat dioperasikan menggunakan etanol sampai E100. Mesin kendaraan ini juga akan menimbulkan turunnya uap penguapan seperti pada kendaraan E85. Untuk mengatasinya, kendaraan bahan bakar fleksibel di Brasil juga dibuatkan tangki bensin kecil cadangan yang diletakkan dekat mesin. Ketika mesin akan dinyalakan, maka bensin akan diinjeksikan ke ruang bakar sehingga tidak menimbulkan masalah di suhu rendah. Bensin ini biasanya dibutuhkan bagi penduduk yang tinggal di Brasil bagian tengah atau selatan, dimana saat musim dingin suhunya akan turun sampai dibawah 15 °C (59 °F). Di tahun 2009, akhirnya diluncurkan mesin berbahan bakar fleksibel generasi terbaru yang tidak membutuhkan tangki bensin tambahan lagi.[41][42] Di bulan Maret 2009, Volkswagen do Brasilmeluncurkan Polo E-Flex, mobil berbahan bakar fleksibel pertama di Brasil yang tidak lagi menggunakan tangki bensin tambahan untuk menyalakan mesin.

Campuran bahan bakar etanol

Banyak negara mewajibkan kendaraan-kendaraannya menggunakan bahan bakar bensin yang dicampur dengan etanol. Semua kendaraan ringan di Brasil bisa beroperasi dengan menggunakan etanol dengan campuran sampai 25% (E25). Sejak tahun 1993, pemerintahan federal sudah mewajibkan campuran etanol berkisar antara 22% sampai 25%, dan di bulan Juli 2011 adalah 25%. Di Amerika Serikat, semua kendaraan ringan bisa memakai campuran etanol dalam bahan bakar sampai 10% (E10). Di akhir tahun 2010, lebih dari 90 persen bensin yang dijual di AS dicampur dengan etanol. Di bulan Januari 2011, Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat mengeluarkan surat pernyataan untuk mencampurkan etanol dalam bensin sampai 15% (E15). Bahan bakar dengan etanol 15% ini hanya dijual untuk mobil kecil dan truk ringan dengan keluaran tahun 2001 atau lebih baru. Negara lainnya juga telah menerapkan peraturan serupa, dengan kebijakan masing-masing.

Ekonomi bahan bakar

Secara teori, semua kendaraan yang beroperasi dengan bahan bakar akan mempunyai nilai ekonomi bahan bakar yang satuannya adalah liter per 100 kilometer. Nilai ekonomi bahan bakar ini biasanya berbanding lurus dengan energi yang terkandung dalam bahan bakar. Tapi, pada faktanya ada banyak variabel yang dapat memengaruhi performa bahan bakar di dalam mesin. Etanol sendiri memiliki energi per unit volume 34% lebih rendah daripada bensin. Maka, teorinya adalah jika memakai bahan bakar etanol, maka jumlah bahan bakar yang dikonsumsi akan lebih boros 34% daripada bensin biasa. Tapi etanol memiliki kelebihan lain yaitu nilai oktan yang tinggi, maka mesin dapat dibuat lebih efisien dengan cara meningkatkan rasio kompresinya. Misalnya, dengan penambahan turbocharger variabel maka rasio kompresi dapat menjadi optimum, sehingga ekonomi bahan bakar nantinya bisa konstan dengan campuran etanol berapapun. Untuk campuran E10 (10% etanol dan 90% bensin), maka efeknya akan kecil jika dibandingkan dengan bensin biasa. Untuk bahan bakar etanol E85 (85% etanol), maka efeknya akan menjadi signifikan. E85 memang lebih boros daripada bensin sehingga pemilik mobil akan lebih sering mengisi bahan bakar. Performa kendaraan sendiri tergantung dari mobilnya apa. Sebuah tes yang dilakukan pada tahun 2006 oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) pada mobil-mobil E85 menyebutkan bahwa ekonomi bahan bakar mobil E85 lebih boros sekitar 25,56% daripada bensin. Rating ekonomi bahan bakar yang dikeluarkan oleh EPA ini berpengaruh ketika orang akan membeli mobil. Tapi, karena E85 ini adalah bahan bakar dengan performa tinggi (nilai oktannya 94-96), maka semestinya juga dibandingkan dengan bensin yang mahal. Harga ritel etanol E85 di Amerika Serikat adalah 2,62 dolar AS per galon AS, sedangkan harga bensin biasa adalah 3,03 dolar AS per galon AS. Harga etanol murni di Brasil (E100) adalah 3,88 dolar, sedangkan harga bensin campuran E25 adalah 4,91 dolar (pada bulan Juli 2007).

Produksi per negara

Produsen etanol terbesar di dunia pada tahun 2010 adalah Amerika Serikat dengan jumlah 13,2 miliar galon AS dan Brasil dengan 6,92 galon AS. 2 negara ini memproduksi 88% etanol dunia, yang total semuanya adalah 22,95 galon AS (86,9 miliar liter). Insentif yang diberikan pemerintah, diikuti dengan pengembangan inisiatif dari industri, telah mendorong negara-negara seperti JermanSpanyolPerancisSwediaChinaThailandKanadaKolombiaIndiaAustralia, dan beberapa negara Amerika Tengah untuk mengembangkan industri etanol.

Lingkungan

Keseimbangan energi

Semua biomassa paling tidak pasti mempunyai tahap-tahap seperti ini: ditanama, dipanen, dikeringkan, difermentasi, dan kemudian dibakar. Semua tahap-tahap ini membutuhkan sumber daya dan infrastruktur. Total energi yang digunakan untuk menghasilkan etanol jika dibandingkan dengan total energi yang dihasilkan etanol maka akan menghasilkan “keseimbangan energi” atau “hasil energi bersih”. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh majalah National Geographic pada tahun 2007 menjelaskan tentang etanol dari jagung yang dihasilkan oleh Amerika Serikat: satu unit energi bahan bakar fosil dibutuhkan untk memproduksi 1,3 unit energi bahan bakar etanol. Keseimbangan energi dari etanol yang diproduksi di Brasil lebih baik, yaitu 1:8. Estimasi untuk keseimbangan energi ini sebenarnya juga tidak pasti, karena beberapa laporan menyatakan yang sebaliknya. Contohnya adalah sebuah survei yang terpisah menyatakan bahwa etanol yang diproduksi dari tebu dapat mengembalikan 8 sampai 9 kali energi yang dibutuhkan untuk membuatnya, jika dibandingkan dengan jagung yang hanya mengembalikan 1,34 kali energi yang dibutuhkan untuk membuatnya. Studi yang dilakukan oleh Universitas California, Berkeley pada tahun 2006 menyatakan bahwa memproduksi etanol dari jagung menggunakan minyak mentah yang lebih sedikit daripada memproduksi bensin.
Karbon dioksida, yang termasuk dalam gas rumah kaca, akan dihasilkan selama proses fermentasi dan pembakaran. Karbon dioksida ini nantinya bisa digunakan oleh tanaman untuk memproduksi biomassa lagi. Ketika dibandingkan dengan bensin, tergantung dari metode produksinya juga, etanol akan menghasilkan gas rumah kaca yang lebih sedikit.

Polusi udara

Etanol adalah bahan bakar yang jika dibakar dengan oksigen maka akan menghasilkan karbon dioksida, air, dan aldehida. Bensin sendiri menghasilkan 2,44 kg CO2 per liter dan etanol 1,94 kg/liter. Karena energi yang dihasilkan oleh etanol hanya 2/3 energi yang dihasilkan bensin, maka etanol menghasilkan CO2 19% lebih banyak daripada bensin dengan energi yang sama. Undang-undang Kebersihan Udara AS mengharuskan penambahan oksigenat untuk mengurangi emisi karbon dioksida di Amerika Serikat. Zat adiktif yang biasa digunakan pada bensin, MTBE, saat ini mulai dikurangi penggunaannya karena ternyata mencemari air tanah, sehingga etanol dianggap sebagai aditif alternatif yang menjanjikan.
Sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti atmosfer di Universitas Stanford mengemukakan bahwa bahan bakar E85 dapat meningkatkan resiko kematian akibat pencemaran udara sampai 9% di kota Los Angeles. Level ozon juga meningkat secara signifikan, kabut asap meningkat dan penyakit seperti asma juga meningkat.

Karbon dioksida

Penghitungan pasti berapa banyak karbon dioksida yang dihasilkan untuk memproduksi bioetanol sangatlah kompleks dan prosesnya juga tidak pasti, sehingga sangat tergantung dari bagaimana etanol itu diproduksi dan nantinya akan dibuat asumsi dalam penghitungan tersebut. Penghitungan karbon dioksida itu semestinya termasuk:
  • Biaya untuk menanam tanaman
  • Biaya untuk mengangkut tanaman ke pabrik
  • Biaya untuk mengolah tanaman itu menjadi bioetanol
Penghitungan itu juga mungkin termasuk:
  • Biaya penggantian penggunaan lahan dimana tanaman bio itu ditanam.
  • Biaya transportasi bioetanol dari pabrik ke tempat penggunaan.
  • Efisiensi bioetanol jika dibandingkan dengan bensin biasa.
  • Banyaknya karbon dioksida yang dihasilkan di pipa pembuangan.
  • Keuntungan lain yang didapat dari produksi sampingan seperti pakan ternak atau listrik.
Grafik di kanan menunjukkan penghitungan yang dilakukan oleh pemerintah Inggris untuk keperluan obligasi bahan bakar transportasi terbaharukan.
Pada bulan Januari 2006, sebuah artikel sains dari ERG UC Berkeley mengestimasi pengurangan gas rumah kaca dari etanol jagung adalah 13% setelah mempelajari berbagai macam studi. Tak lama kemudian, mereka mengeluarkan versi revisi dari artikel itu dan menurunkan angkanya menjadi 7,4% saja. Sebuah ulasan dari Majalah National Geographic pada tahun 2007 mengemukakan bahwa produksi dan penggunaan etanol dari jagung akan mengurangi emisi CO2 sebesar 22% jika dibandingkan dengan bensin, sedangkan untuk etanol dari tebu maka pengurangan emisinya adalah 56%. Perusahaan Ford mengatakan bahwa akan ada pengurangan emisi CO2 sebesar 70% untuk penggunaan bahan bakar bioetanol pada kendaraan bahan bakar fleksibel mereka.

Perubahan penggunaan lahan

Perkebunan skala besar dibutuhkan untuk memproduksi alkohol dan ini membutuhkan lahan yang luas juga. Universitas Minnesota melaporkan bahwa jika semua jagung yang ditanam di A.S. digunakan untuk memproduksi etanol maka akan menggantikan 12% konsumsi bensin A.S. sekarang ini. Mereka mengklaim bahwa lahan yang digunakan untuk memproduksi etanol diperoleh melalui deforestasi hutan, dan lainnya juga telah meneliti bahwa area yang sekarang ini dipakai untuk menanam tanaman ini biasanya tanahnya tidak cocok. Dalam beberapa hal, pertanian dapat saja membuat kesuburan tanah berkurang karena berkurangnya organisme organik, turunnya kualitas dan kuantitas air, penggunaan pestisida yang semakin besar, dan potensi penggusuran komunitas lokal. Teknologi yang semakin modern memungkinkan para petani untuk memperoleh hasil yang sama besar dengan pengorbanan yang lebih sedikit.
Produksi etanol selulosa merupakan salah satu pendekatan baru yang digunakan untuk menyelesaikan masalah penggunaan lahan ini. Etanol selulosa dapat diproduksi dari bagian mana saja dari sebuah tanaman, sehingga berpotensi akan melipatgandakan hasil, sehingga akhirnya konflik makanan vs. bahan bakar akan bisa diminimalkan. Daripada biasanya yang hanya menggunakan amilumnya saja, produksi etanol selulosa akan memaksimalkan penggunaan seluruh bagian tumbuhan. Dengan ini, maka pengeluaran karbon pun menjadi lebih sedikit karena mendapatkan hasil yang lebih banyak dengan menggunakan material yang masih bisa dipakai. Teknologi untuk memproduksi etanol selulosa ini sampai saat ini sudah sampai pada tahap komersialisasi.

Penggunaan etanol untuk listrik

Mengubah biomassa menjadi listrik untuk kemudian digunakan untuk mengisi baterai mobil leketrik mungkin akan lebih “ramah lingkungan” daripada menggunakan biomassa untuk memproduksi etanol, menurut salah satu publikasi ilmiah. “Anda akan menggunakan lahan lebih efisien dan penggunaan yang lebih efisien juga dengan mengubah biomassa menjadi listrik daripada menjadi etanol,” kata Elliott Campbell, seorang peneliti lingkungan di Universitas California di Merced, yang memimpin penelitian ini. “Daripada untuk membuat bahan bakar bio cair, lebih baik kita menjadikannya sebagai sumber daya alam bio.”
Karena bioenergi saat ini telah menjadi solusi dari masalah iklim globa;, maka pengembangan teknologi diperlukan, kata analis. Para peneliti terus mencari bagaimana cara mencari pengembangan yang paling efektif, baik di etanol selulosa maupun baterai kendaraan listrik.

Ongkos biaya akibat emisi etanol

Untuk setiap satu miliar galon bahan bakar etanol yang diproduksi dan dibakar di AS, maka diperkirakan ongkos produksi disertai dengan perubahan iklim adalah 469 juta dolar AS untuk bensin, 472–952 juta dolar AS untuk etanol jagung tergantung dari sumber panas pengilangannya beserta teknologinya, dan hanya 123–208 juta dolar AS untuk etanol selulosa tergantung dari tanamannya (biomassa prairie, Miscanthus, stover jagung, atau switchgrass).

Efisiensi tanaman

Ketika hasil etanol semakin meningkat dan tanaman yang bisa dipakai untuk etanol semakin banyak, maka produksi etanol bisa semakin ekonomis. Sekarang ini, penelitian untuk meningkatkan hasil etanol dari tanaman jagung sedang dilakukan menggunakan bioteknologi. Juga, selama harga minyak tetap tinggi, maka penggunaan tanaman sebagai bahan bakar akan semakin dipilih. Tanaman switchgrass, yang tumbuhnya cepat, bisa ditanam di lahan yang tidak cocok untuk tanaman lain dan menghasilkan etanol banyak per unit wilayah.

Penggunaan lain

Bahan bakar etanol juga bisa digunakan sebagai bahan bakar roket. Sampai tahun 2010, ada etanol meskipun dalam jumlah sedikit yang digunakan di Pesawat ringan contohnya Mark-III X-racer.
Sampai saat ini masih banyak penggunaan kerosin untuk penerangan dan memasak di negara-negara yang masih kurang berkembang. Etanol bisa digunakan sebagai sumber untuk menggantikan minyak ini juga. Sebuah proyek non-profit yang bernama Proyek Gaia sedang mengusahakan agar kompor berbahan etanol bisa menggantikan kayu bakar, arang, atau kerosin.

Referensi

  1. “Towards Sustainable Production and Use of Resources: Assessing Biofuels”United Nations Environment Programme. 16 Oktober 2009. Diakses pada 24 Oktober 2009.
  2. F.O. Lichts. “Industry Statistics: 2010 World Fuel Ethanol Production”.Renewable Fuels Association. Diakses pada 30 April 2011.
  3. Worldwatch Institute and Center for American Progress (2006). American energy: The renewable path to energy security
  4. “Portaria Nº 143, de 27 de Junho de 2007″ (dalam bahasa Portuguese). Ministério da Agricultura, Pecuária e Abastecimento. Diakses pada 5 Oktober 2008.
  5. “Produção de Automóveis por Tipo e Combustível – 2010(Tabela 10)” (dalam bahasa Portuguese) (PDF). ANFAVEA – Associação Nacional dos Fabricantes de Veículos Automotores (Brasil). 1 Januari 2011. Diakses pada 5 Februari 2011. Production up to December 2010
  6. “Anúario da Industria Automobilistica Brasileira 2010: Tabelas 2.1-2.2-2.3 Produção por combustível – 1957/2009″ (dalam bahasa Portuguese). ANFAVEA – Associação Nacional dos Fabricantes de Veículos Automotores (Brasil). Diakses pada 5 Februari 2011.
  7. “Produção Motocicletas 2010″ (dalam bahasa Portuguese). ABRACICLO. Diakses pada 15 Februari 2011.
  8. Abraciclo (27 January 2010). “Motos flex foram as mais vendidas em 2009 na categoria 150cc” (dalam bahasa Portuguese). UNICA. Diakses pada 10 Februari 2010.
  9. “Deforestation diesel – the madness of biofuel” (PDF). Diakses pada 27 Agustus 2011.
  10. Youngquist, W. Geodestinies, National Book company, Portland, OR, 499p.
  11. “The dirty truth about biofuels”Oilcrash.com. 14 Maret 2005. Diakses pada 27 Agustus 2011.
  12. Kinver, Mark (18 September 2006). “Biofuels look to the next generation”. BBC News. Diakses pada 27 Agustus 2011.
  13. O. R. Inderwildi, D. A. King (2009). “Quo Vadis Biofuels”. Energy & Environmental Science 2 (4): 343. doi:10.1039/b822951c.
  14. Biotechnology Industry Organization (2007). Industrial Biotechnology Is Revolutionizing the Production of Ethanol Transportation Fuel pp. 3-4.
  15. International Energy Agency (2006). World Energy Outlook 2006 p. 8.
  16. “meti.go.jp file g30819b40j” (PDF). Diakses pada 27 Agustus 2011.
  17. “(grainscouncil.com, Biofuels_study 268 kB pdf, footnote, p 6)”Web.archive.org. 18 Juli 2008. Diakses pada 27 Agustus 2011.
  18. By: Martin LaMonica (12 June 2008). “Algae farm in Mexico to produce ethanol in ’09″.News.cnet.com. Diakses pada 27 Agustus 2011.
  19. “New Enzyme for More Efficient Corn Ethanol Production”. Green Car Congress. 30 Juni 2005. Diakses pada 14 Januari 2008.
  20. “Gasoline C made with Hydrous Ethanol in Brazil”. Delphi South America Technical Center – Brazil. 30 Juli 2008.
  21. “Modern Corn Ethanol plant description” (PDF).
  22. http://www.afdc.energy.gov Energy.gov site
  23. http://www.eia.doe.gov Alternative Fuel Efficiencies in Miles per Gallon
  24. “washington.edu, course, 22 October v2″Courses.washington.edu. Diakses pada 27 Agustus 2011.
  25. “Efficiency Improvements Associated with Ethanol-Fueled Spark-Ignition Engines”Swri.edu. 21 Januari 2011. Diakses pada 27 Agustus 2011.
  26. N. Stauffer (25 October 2006). “MIT’s pint-sized car engine promises high efficiency, low cost”. MIT. Diakses pada 14 Januari 2008.
  27. Squeezing More Out of Ethanol
  28. Brinkman, N., Halsall, R., Jorgensen, S.W., & Kirwan, J.E., “The Development Of Improved Fuel Specifications for Methanol (M85) and Ethanol (Ed85), SAE Technical Paper 940764
  29. W. Horn and F. Krupp. Earth: The Sequel: The Race to Reinvent Energy and Stop Global Warming. 2006, 85
  30. Mechanics see ethanol damaging small enginesmsnbc.com, 8 January 2008
  31. “Microsoft Word – Direct_Injection_03=08=05_1.doc” (PDF). Diakses pada 27 Agustus 2011.
  32. “SAE Paper 2001-01-2901″Sae.org. 16 Oktober 2000. Diakses pada 27 Agustus 2011.
  33. M. Brusstar, M. Bakenhus. “Economical, High-Efficiency Engine Technologies for Alcohol Fuels” (PDF). U. S. Environmental Protection Agency. Diakses pada 14 Januari 2008.
  34. “Scania continues renewable fuel drive, New highly efficient diesel ethanol engine– ready to cut fossil CO2 emissions by 90%” Scania PRESSInfo, 21 May 2007
  35. “England receives ethanol buses Brian Warshaw, Ethanol Producer, 21 March 2008
  36. Roman M. Balabin, et al. (2007). “Molar enthalpy of vaporization of ethanol–gasoline mixtures and their colloid state”. Fuel 86 (3): 323. doi:10.1016/j.fuel.2006.08.008.
  37. “Sustainable biofuels: prospects and challenges” (PDF). The Royal Society. 1 Januari 2008. Diakses pada 27 September 2008.[pranala nonaktif] Policy document 01/08. See 4.3.1 Vapour pressure and bioethanol and Figure 4.3 for the relation between ethanol content and vapor pressure.
  38. Ethanol Promotion and Information Council (27 February 2007). “When is E85 not 85 percent ethanol? When it’s E70 with an E85 sticker on it”. AutoblogGreen. Diakses pada 24 Agustus 2008.
  39. “Ethanol fuel and cars”. Interesting Energy Facts. Diakses pada 23 September 2008.
  40. Vägverket (Swedish Road Administration) (30 May 2007). “Swedish comments on Euro 5/6 comitology version 4, 30 May 2007: Cold Temperature Tests For Flex Fuel Vehicles”(PDF). European Commission. Diakses pada 23 September 2008.
  41. “Here comes the ‘Flex’ vehicles third generation” (dalam bahasa Portuguese) (PDF).Revista Brasileira de BioEnergia (Centro Nacional de Referência em Biomassa (Cenbio)). 1 Agustus 2008. Diakses pada 23 September 2008. Ano 2, No. 3 (every article is presented in both English and Portuguese)
  42. Agência Estado. ”Bosch investe na segunda geração do motor flex“, Gazeta do Povo, 10 Juni 2008. Diakses pada 23 September 2008.
  43. Q. Rodas. ”Volkswagen Polo E-Flex“, Editora Abril. Diakses pada 12 Maret 2003.
  44. “Volks lança sistema que elimina tanquinho de gasolina para partida a frio” (dalam bahasa Portuguese). UNICA. 12 Maret 2009. Diakses pada 12 Maret 2003.
  45. Julieta Andrea Puerto Rico (8 May 2008). “Programa de Biocombustíveis no Brasil e na Colômbia: uma análise da implantação, resultados e perspectivas” (dalam bahasa Portuguese). Universidade de São Paulo. Diakses pada 5 Oktober 2008. Ph.D. Dissertation Thesis, pp. 81–82
  46. “2011 Ethanol Industry Outlook: Building Bridges to a More Sustainable Future”. Renewable Fuels Association. 14 Desember 2011. Diakses pada 30 April 2011.See pages 2-3, 10-11, 19-20, and 26-27.
  47. Matthew L. Wald. ”A Bit More Ethanol in the Gas Tank“, New York Times, 13 Oktober 2010. Diakses pada 14 Oktober 2010.
  48. Fred Meier. ”EPA allows 15% ethanol in gasoline, but only for late-model cars“, USA Today, 13 Oktober 2010. Diakses pada 14 Oktober 2010.
  49. http://www.eia.doe.gov DOE FAQ
  50. “Ethanol in Petrol”. Royal Automobile Association of South Australia. 1 Februari 2004. Diakses pada 29 April 2007.
  51. “EPA Info”. US EPA. 7 Maret 2011. Diakses pada 27 Agustus 2011.
  52. J. Goettemoeller, A. Goettemoeller (2007). Sustainable Ethanol: Biofuels, Biorefineries, Cellulosic Biomass, Flex-Fuel Vehicles, and Sustainable Farming for Energy Independence. Prairie Oak Publishing, Maryville, Missouri. hlm. 42. ISBN 9780978629304.
  53. “EPA Mileage”Fueleconomy.gov. Diakses pada 27 Agustus 2011.
  54. “Changes in Gasoline IV, sponsored by Renewable Fuels Foundation” (PDF). Diakses pada 27 Agustus 2011.
  55. “2009 Global Ethanol Production (Million Gallons)”F.O. Licht, cited in Renewable Fuels Association, Ethanol Industry Overlook 2010, pp. 2 and 22. 14 Desember 2010. Diakses pada 12 Februari 2011.
  56. F.O. Licht. “2007 and 2008 World Fuel Ethanol Production”Renewable Fuels Association. Diarsipkan dari yang asli pada 8 April 2008. Diakses pada 17 April 2010.
  57.  Green Dreams J.K. Bourne JR, R. Clark National Geographic Magazine October 2007 p. 41 Article
  58. iea.org, biofuels2004.pdf[pranala nonaktif]
  59. Sanders, Robert (26 January 2006).Ethanol can replace gasoline with significant energy savings, comparable impact on greenhouse gasesUniversity of California BerkleyEnergy Resources Group, Dan Kammen and Alex Farrell; Michael O’Hare, Goldman School of Public Policy. Also published 27 JANUARY 2006 VOL 311 Science, http://www.sciencemag.org .Retrieved 22 August 2011.
  60. “oregon.gov, biomass forum”Oregon.gov. 27 Maret 2009. Diakses pada 27 Agustus 2011.
  61. M. Wang, C. Saricks, D. Santini. “Effects of Fuel Ethanol Use on Fuel-Cycle Energy and Greenhouse Gas Emissions” (PDF). Argonne National Laboratory. Diakses pada 7 Juli 2009.
  62. M. Wang. “Energy and Greenhouse Gas Emissions Effects of Fuel Ethanol” (PDF). Diakses pada 7 Juli 2009.
  63. Popa, Bogdan (29 Jan 2009). “Emissions: Gasoline vs. Diesel vs. Bioethanol”.autoevolution.com. Diakses pada 27 Desember 2010.
  64. Davidson, Keay, ”Study warns of health risk from ethanol“, San Francisco Chronicle, 18 April 2007. Diakses pada 7 Juli 2009.
  65. M. Z. Jacobson (14 March 2007). “Effects of Ethanol (E85) vs. Gasoline Vehicles on Cancer and Mortality in the United States”. ACS Publications. Diakses pada 14 Januari 2008.
  66. “Part One” (PDF).
  67. Bioethanol Production and Use Creating Markets for Renewable Energy TechnologiesEU, RES Technology Marketing Campaign, European Biomass Industry Association EUBIA 2007
  68. D. Morrison (18 September 2006). “Ethanol fuel presents a corn-undrum”. University of Minnesota. Diakses pada 14 Januari 2008.
  69. Lula calls for ethanol investment“, BBC, 4 Juni 2007. Diakses pada 14 Januari 2008.
  70. Brazil’s ethanol push could eat away at Amazon“, 7 Maret 2007. Diakses pada 14 Januari 2008.
  71. Kononova, M. M. Soil Organic Matter, Its Nature, Its role in Soil Formation and in Soil Fertility, 1961
  72. D. Russi (7 March 2007). “Biofuels: An advisable strategy?”. Diarsipkan dari yang asli pada 29 Maret 2008.
  73. Block, Ben. “Study: biofuels more efficient as electricity source.(EYE ON EARTH)(Brief article).” World Watch 22
  74. Hill, Jason, Stephen Polasky, Erik Nelson, David Tilman, Hong Huo, Lindsay Ludwig, James Neumann, Haochi Zheng, and Diego Bonta. “Climate change and health costs of air emissions from biofuels and gasoline.(SUSTAINABILITY SCIENCE)(Author abstract).” Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States 106.6 (10 February 2009): 2077(6). Expanded Academic ASAP. Gale. BENTLEY UPPER SCHOOL LIBRARY (BAISL). 6 October 2009
  75. D. Budny, P. Sotero (2007-04). “Brazil Institute Special Report: The Global Dynamics of Biofuels” (PDF). Brazil Institute of the Woodrow Wilson Center (updated to Jan, 2011). Diakses pada 3 Mei 2008.
  76. J. Duailibi (27 April 2008). “Ele é o falso vilão” (dalam bahasa Portuguese). Veja Magazine. Diakses pada 3 Mei 2008.
  77. M. H. Tachinardi (13 June 2008). “Por que a cana é melhor que o milho” (dalam bahasa Portuguese). Época Magazine. Diakses pada 6 Agustus 2008. Print edition pp. 73
  78. Belum V S Reddy. “Sweet sorghum: A Water Saving BioEnergy Crop” (PDF). International Crops Research Institute for the SemiArid Tropics. Diakses pada 14 Januari 2008.
  79. “RP INVESTOR TO PUT UP PIONEERING SWEET SORGHUM ETHANOL PLANT”. Manila Bulletin. 25 Oktober 2006. Diakses pada 14 Januari 2008.
  80. G. C. Rains, J. S. Cundiff, and G. E. Welbaum (12 September 1997). “Sweet Sorghum for a Piedmont Ethanol Industry”. Diakses pada 14 Januari 2008.
  81. “ICRISAT develops sweet sorghum for ethanol production”. 12 Agustus 2004. Diarsipkan dari yang asli pada 15 Desember 2007. Diakses pada 14 Januari 2008.
  82. Rocket Racing League Unveils New Flying Hot Rod, by Denise Chow, Space.com, 2010-04-26, accessed 27 April 2010.
  83. “Welcome to Project Gaia”. Project Gaia. Diakses pada 6 Mei 2009.

0 komentar:

Post a Comment

bagus sangat membatu bagi kami
sering-seringlah enteri file yang baru
kami merasa senang dan bangga atas kebedradaan blog ini